Utang Sudah Lampu Kuning, Rizal Ramli Minta Pemerintah Jujur

Ade Miranti Karunia Sari ยท Senin, 26 Maret 2018 - 21:09:00 WIB
Utang Sudah Lampu Kuning, Rizal Ramli Minta Pemerintah Jujur
Mantan Menteri Perekonomian Rizal Ramli. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA, iNews.id – Mantan Menteri Keuangan Rizal Ramli meminta pemerintah bersikap jujur terhadap kondisi utang pemerintah yang disebutnya sudah lampu kuning.

"Secara umum, utang kita ini sudah lampu kuning. Jadi, saya minta pejabat, sudahlah jangan ngibulin, saya minta bicara jujur saja. Indikator primer balance-nya negatif, seharusnya positif," ucapnya, Senin (26/3/2018).

Neraca keseimbangan primer dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sejak 2015. Jika defisit, artinya pemerintah harus membayar utang dengan utang baru. Pada 2015, defisit keseimbangan primer mencapai Rp142,5 triliun sementara tahun ini angkanya ditargetkan turun Rp87,3 triliun.

Selain itu, Rizal juga meminta agar Bank Indonesia (BI) jujur terhadap kondisi utang luar negeri. Dia menyebut, tahun ini total pembayaran cicilan berupa pokok dan bunga utang cukup besar.

"Kami minta BI harus jujur, karena ada Rp840 triliun utang yang harus dibayar tahun ini. Jadi lebih dari APBN bayar pokok dan bunga," kata Rizal.

Dia melanjutkan, pada tahun 1996 atau tepat satu tahun sebelum krisis, pemerintah dan BI memberikan keyakinan bahwa utang Indonesia tidak terlalu banyak alias dalam kondisi aman sehingga tidak berpengaruh banyak terhadap ekonomi. Padahal, ketika terjadi krisis ekonomi tahun 1997/1998, utang yang tadinya dianalisis tidak terlalu bahaya, justru dampaknya besar sekali.

"Total utang pada waktu itu BI tidak punya, jadi kami minta Deputi dan Gubernur BI tolong berikan informasi yang benar, walaupun menyakitkan. Tapi kita tahu bahwa utang itu semakin besar baik pemerintah dan swasta," ujarnya.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman ini pun menjelaskan asal muasal utang pemerintah yang kini sudah menembus Rp4.000 triliun. Sejak Orde Baru, kata dia, utang pemerintah terus bertambah setiap tahun sehingga siapapun presidennya berpikir keras agar bisa mengurangi utang.

"Utang kita menjadi sangat besar karena ada kasus BLBI (Bantuin Likuiditas Bank Indonesia), karena itu utang swasta. Akibat tekanan IMF, pejabat kita gampang menyerah akhirnya itu jadi utang publik. Sebetulnya itu utang swasta," kata Rizal.

Editor : Rahmat Fiansyah