Indahnya Alam Ujung Barat Indonesia dari Ketinggian Mercusuar Willem Toren III

Vien Dimyati ยท Senin, 19 Agustus 2019 - 15:21 WIB
Indahnya Alam Ujung Barat Indonesia dari Ketinggian Mercusuar Willem Toren III

Penampakan bangunan ikonik Mercusuar Willem Toren III. (Foto: Instagram)

JAKARTA, iNews.id - Wisata sejarah ke ujung barat Indonesia menjadi momen mengasyikkan. Di ujung Pulau Breuh, Kabupaten Aceh Besar, terdapat bangunan ikonik bernama Mercusuar Willem Toren III.

Menara setinggi 85 meter ini merupakan peninggalan Belanda pada 1875. Hanya ada tiga di dunia, dua menara lagi berada di Belanda dan Kepulauan Karibia.

Menara Willem's Toren III telah berusia lebih dari satu abad sejak dibangun pada 1875. Jika dilihat dari luar, gedung mercusuar ini mulai usang dan tua. Namun, bangunannya masih kokoh. Mercusuar ini merupakan menara yang berfungsi mengatur navigasi lalu lintas kapal di Samudera Hindia. Menara ini berada di dalam komplek seluas 20 hektare. Dulu, komplek ini dihuni oleh para perwira Belanda.

Mercusuar ini dikabarkan mengadopsi nama raja yang menguasai Luksemburg pada 1817 hingga 1890, yakni Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk. Kala memerintah saat itu, Willem giat membangun ekonomi serta infrastruktur di wilayah Hindia Belanda. Pulau Aceh termasuk bagian dari program pembangunan infrastruktur pemerintah Belanda di masa itu.

"Apa saja yang bisa kita nikmati di sini? Dari atas menara ini Anda bisa melihat panorama bagian ujung paling barat Indonesia. Samudera Hindia pun terlihat memukau sejauh mata memandang. Air laut kebiru-biruan dihiasi pulau-pulau kecil juga tak kalah menarik. Lampu raksasa kuno yang tak terpakai di bagian atas menjadi bukti betapa berjasanya mercusuar ini di masa lampau. Sebelum ke sini, siapkan stamina. Sekitar seratus lebih anak tangga menanti Anda untuk dinaiki," tulis Instagram @Pesonaid_travel, Senin (19/8/2019).

Bangunan berbentuk silinder ini memiliki ketebalan dinding mencapai satu meter. Dinding luar dicat warna merah dan putih. Terdapat enam lantai di dalamnya. Setiap lantai dilengkapi jendela. Dari jendela bergaya Eropa, ketenangan Samudera Hindia akan menenteramkan mata. Untuk mencapai puncak menara, Anda harus menaiki 174 anak tangga yang terbuat dari besi berukir.

Rasa lelah akan hilang seketika saat berada di pucuk menara. Pemandangan indah tersaji dari balik ruangan kaca di dalamnya terpasang lampu sorot raksasa yang bisa berputar-putar. Lampu ini akan menyala di malam hari, menembakkan cahaya hingga ke parairan internasional Samudera Hindia dan pintu masuk Selat Malaka. Fungsinya sebagai pengatur lalu lintas laut yang sering dilintasi kapal-kapal besar.

Di luar ruangan kaca ada teras bundar di keliling pagar besi. Dari observation deck ini, Anda dapat menikmati pemandangan 360 derajat tanpa batas. Biru laut, hijau gunung, dan deretan tebing layaknya lukisan. Pulau-pulau kecil seperti mengapung di Samudera Hindia. Menoleh ke bawah ada daratan berselimut pohon menjurus ke laut.

Menghadap ke utara, terlihat Pulau Weh, Sabang memanjang biru di seberang lautan. Dari kejauhan juga terlihat Rondo, pulau terluar di Indonesia yang tanpa penghuni tapi dijaga TNI Angkatan Laut, serta petugas navigasi kelautan.

Mercusuar Willem's Toren III terletak di hutan Kampung Meulingge, Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Jika berangkat dari Kota Banda Aceh, Anda harus menyeberang dulu dengan kapal menuju Pulau Aceh. Lama perjalanan sekitar tiga jam jika berangkat dari Pelabuhan Lampulo, Banda Aceh. Untuk menuju Mercusuar Willem's Toren III tidaklah mudah. Anda harus menempuh jarak tempuh sekitar 45 menit setelah tiba di Pulau Aceh. Akses jalannya terjal dan berliku.


Editor : Tuty Ocktaviany