Membedah Akulturasi Budaya Macao dari Ruis of St Paul's

Diaz Abraham ยท Selasa, 27 Agustus 2019 - 17:31 WIB
Membedah Akulturasi Budaya Macao dari Ruis of St Paul's

Ruis of St Paul's jadi destinasi favorit wisatawan di Macao. (Foto: iNews/id/Diaz Abraham)

MACAO, iNews.id - Saat mencari informasi mengenai Macao di dunia maya, banyak orang akan menemui satu bangunan kuno bergaya Portugis bernama Ruis of St Paul's. Bangunan ini merupakan salah satu saksi sejarah bagaimana kemegahan Macao pada masanya.

Gereja ini didirikan pada 1602-1640 dan menjadi bagian dari St Paul's College. Bangunan peribadatan yang sangat megah tersebut letaknya berdekatan dengan Macao Museum, cukup berjalan kaki untuk memasuki kompleks gereja tersebut.

Wisatawan yang datang akan disuguhkan pemandangan unik karena St Paul's College hari ini hanya tersisa tembok depannya saja yang disangga oleh baja besar pada kedua sisi oleh pemerintahan Macao di bagian belakang. Pemandangan ini terjadi karena tahun 1835, gereja tersebut mengalami kebakaran hebat.

Alih-alih memperbaikinya, masyarakat saat itu hanya membiarkan keadaan ini karena terbentur ekonomi Macao yang saat itu masih carut marut. Bangunan tersebut kini berdiri kokoh dan menjadi ikon negara Macao, sekaligus tujuan utama wisatawan.

Bangunan ini berada di Macao Peninsula, bekas bangunan gereja tersebut ternyata memiliki ornamen-ornamen unik yang punya makna tersendiri. Pada bagian paling dasar, pahatan logo IHS, logo Yesus, dan tulisan Mater Dei (Maria Bunda Allah) pada bagian tengah.

Bagian kedua bangunan Ruis of St Paul's menununjukkan empat patung St Fransiscus Xaverius saat ke Tiongkok. Lalu di atasnya ada beberapa relief yang menunjukan akulturasi budaya antara China dan Portugis,  yakni pohon natal, kapal Portugis, wanita mengalahkan naga dengan tujuh kepala, tengkorak, dan kembang raja Jepang (seruni).

Tino, seorang pemandu wisata yang menemani tim iNews bersama rombongan mengunjungi Ruis of St Paul's mengungkapkan bila banyak orang menganggap bahwa lambang naga berkepala tujuh tersebut menghina China. Padahal, maksud dari gambar tersebut amatlah baik.

"Naga di situ bukan naganya China. Naga China itu panjang tidak besar, dan hanya satu kepala. Di situ ada tujuh kepala. Maksud dari tujuh kepala itu adalah tujuh dosa di katolik. Wanita itu sebenarnya menunjukan kalau dia tidak pernah melakukan dosa tersebut," ujarnya.

Selain itu gambar tengkorak melambangkan kematian. Menurutnya, orang China pada zaman dulu percaya bila ketika mereka meninggal akan bertemu dewa. Bahkan jika semasa hidup berlaku baik akan berkesempatan menjadi dewa.

"Ketika dikubur, badan harus dalam keadaan bagus atau lengkap. Bahkan jari tidak boleh hilang. Seseorang tidak akan bertemu dewa kalau badannya tidak lengkap ketika meninggal. Sehingga orang China kalau mau dibunuh atau mati sering diberikan dua pilihan. Mau kepala dipotong atau diracun. Biasanya maunya diracun. Meskipun diracun lebih sengsara, tapi akan masuk surga," katanya.

Pada bagian yang sama, terdapat dua patung macan di ujung kiri dan kanan bangunan melambangkan budaya China. Naik satu tingkat yakni bagian ketiga, terdapat gambar Yesus, yang di kanan kirinya terdapat palu, pecut, paku, mahkota duri, dan patung St Petrus memegang salib, kemudian ada kebangkitan yang melambangkan terang dunia.

Gambar teratas mengisahkan roh kudus turun yang digambarkan menjadi burung. Relief ini mengisahkan awal mula dunia dan di kiri kanan terdapat gambar matahari, bulan, serta empat bintang sebagai perlambang empat musim. Beberapa destinasi wisata di Macao lainnya dapat dilihat melalui jelajahmacao.com.


Editor : Tuty Ocktaviany