Geopark Indonesia

Mengenal Kabuenga, Tradisi Masyarakat Wakatobi Mencari Jodoh

iNews ยท Jumat, 01 November 2019 - 21:16 WIB
Mengenal Kabuenga, Tradisi Masyarakat Wakatobi Mencari Jodoh

Wakatobi di Sulawesi Tenggara memiliki sederet kekayaan alam dan tradisi budaya yang mencuri perhatian wisatawan. ( Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNews.id – Wakatobi di Sulawesi Tenggara memiliki sederet kekayaan alam dan tradisi budaya yang mencuri perhatian wisatawan. Salah satunya tradisi mencari jodoh yang digelar tahunan oleh masyarakat Wakatobi, Kabuenga.

Wakatobi berada di wilayah Sulawesi Tenggara. Wakatobi merupakan akronim dari empat nama pulau, yakni Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko.

Saat berkunjung ke Wakatobi, tim Geopark Indonesia bersama pembaca acara Stefanny Eveline membedah sebagian potensi taman bumi yang tersimpan di wilayah yang berjulukan Carribean van Celebes ini. Wakatobi memiliki sejarah geologi yang bersejarah. Kepulauan Wakatobi terbentuk sejak zaman tersier atau sekitar 66 juta tahun lalu.

Berdasar penelitian, Kepulauan Wakatobi terbentuk akibat proses geologi yang meliputi sesar geser, sesar naik, sesar turun, serta lipatan dari gaya tektonik yang berlangsung hingga saat ini.

Tim Geopark Indonesia juga ikut memeriahkan tradisi tahunan khas masyarakat Wakatobi, yaitu Kabuenga. Kabuenga merupakan tradisi untuk mencari jodoh.

Serangkaian acara adat dilakukan oleh para gadis (Kalambe) dan lelaki bujangan, untuk menemukan pasangan hidup yang tepat. Tradisi Kabuenga merupakan warisan budaya leluhur yang terus dipertahankan masyarakat Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Usai melihat rangkaian tradisi Kabuenga, tim melanjutkan untuk mengulik salah satu kuliner khas Wakatobi yang terbuat dari singkong, namanya kasoami. Sebuah santapan sederhana, namun sangat lezat. Apalagi jika disantap bersama dengan ikan.

Walau termasuk pangan yang sederhana, singkong memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik untuk tubuh. Tidak hanya karbohidrat, tetapi juga serat, mineral, vitamin C, E, dan folat.

Stefanny juga berkesempatan mempelajari cara membuat furai homoru, atau kain tenun khas Wakatobi di Desa Wisata Liya Togo, Kecamatan Wangsel, Pulau Wangi-Wangi. Dengan menggunakan alat tenun yang cukup sederhana, dan sudah digunakan secara turun-temurun, proses pembuatan tenun tidak semudah yang dilihat.

Kegiatan menenun sendiri sangat membantu perekenomian warga Liya Togo. Kain-kain tenun dijual dengan harga mulai dari Rp400 ribu hingga Rp800 ribu.

Keunikan di Wakatobi tak hanya itu. Masyarakat Wakatobi juga gemar mengonsumsi bulu babi dan siput laut.

Bagian bulu babi yang bisa dimakan langsung bernama gonad atau telur bulu babi. Gonad memiliki kandungan gizi yang baik, seperti protein, kalsium, fosfor, vitamin A dan B.

Berkunjung ke Wakatobi kurang afdol jika tidak melihat langsung keindahan bawah lautnya. Salah satunya ada di sekitar wilayah Pulau Wangi-Wangi.

Saat tim Geopark Indonesia menyelam hingga kedalaman 10 meter, tim disambut dengan beragam karang yang cantic, serta kumpulan ikan kecil. Sebagai informasi, Kabupaten Wakatobi telah menjadi taman laut terluas kedua di Indonesia sejak 1996.

Penasaran ingin tahu selengkapnya tentang Wakatobi? Jangan lupa tonton program Geopark Indonesia episode Kabuenga, Tradisi Mencari Cinta pada Minggu 3 November 2019, pukul 16.00 WIB, hanya di iNews.

Video Editor: Mochamad Nur


Editor : Tuty Ocktaviany