Wisata ke Yogya, Bertemu Perempuan Jawa Ayu di Museum Ullen Sentalu

Ramdan Malik ยท Selasa, 22 Januari 2019 - 14:32 WIB
Wisata ke Yogya, Bertemu Perempuan Jawa Ayu di Museum Ullen Sentalu

Arsitektur Eropa di taman Museum Ullen Sentalu (Foto: iNews.id/Ramdan Malik/Tina Gayatri)

YOGYAKARTA, iNews.id – Yogyakarta menyimpan banyak destinasi menarik yang wajib dikunjungi. Satu lagi yang bisa dikunjungi adalah Museum Ullen Sentalu.

Museum ini berdiri di tengah rimbun pepohonan dan hawa sejuk lereng Gunung Merapi. Lokasinya berada di ujung Jalan Boyong Kilometer 25, Kaliurang Barat, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.


Ullen Sentalu merupakan singkatan dari ungkapan berbahasa Jawa, ulating blencong sejatine tataraning lumaku. Artinya, nyala lampung blencong -lampu minyak dalam pertunjukan wayang kulit- merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan.

Dengan membayar Rp40.000, setiap pengunjung dapat mengikuti tur museum dipandu seorang guide selama 50 menit. 

“Ini museum yang dibangun keluarga Haryono sejak 1994, menampilkan budaya dan kehidupan para bangsawan Mataram Islam dari empat kerajaan, yakni Kesultanan Yogyakarta, Pakualaman, Kasunanan Surakarta, serta Mangkunegaran,” tutur Ayu, pemandu belasan pengunjung di antaranya saya sendiri.

Dua arca Dewi Sri menyambut kami di Ruang Selamat Datang. Kondisi patung Dewi Kesuburan di tanah Jawa itu tak lagi utuh. Sebelum memasuki ruang seni tari dan gamelan yang berisi lukisan-lukisan penari Jawa, serta gamelan pengiring pertunjukan tari atau wayang, Ayu mewanti-wanti pengunjung, “Dilarang memotret di dalam ruangan museum!”

Kemudian pengunjung diajak memasuki Gua Sela Giri. Kami melangkah turun dan naik, menyesuaikan kontur tanah. Arsitekturnya bergaya gotik Eropa, sedangkan bahan materialnya dari batu Gunung Merapi. Lukisan tokoh-tokoh dari empat kerajaan Mataram mengisi bangunan di bawah tanah ini. 

“Di antara empat pemimpin kerajaan yang tersisa di Jawa ini, Sri Sultan Hamengkubuwono IX paling banyak menggubah tari sebagai salah satu syarat menjadi raja. Ada sembilan tarian ciptaannya, termasuk Bedoyo Ketawang, tarian sakral yang menghadirkan Ratu Pantai Selatan, Nyi Loro Kidul,” tutur Ayu.   

Pemandu lalu mengajak kami menelusuri labirin menuju Kampung Kambang yang terbagi lima ruangan. Pertama, Bilik Syair Tineke, yang mengoleksi puisi-puisi Gusti Raden Ajeng Koes Sapariyam, Putri Sunan Pakubowono XI yang populer dengan panggilan ala Belanda, Tineke. Sajak-sajak yang ditulis pada 1939-1947 tersebut, ditemukan dalam sebuah ruangan di Keputren Kasunanan Surakarta.

Ruangan kedua adalah Royal Room Ratu Mas yang berisi pernak-pernik permaisuri Sunan Pakubuwono X, dari lukisan, foto, baju pengantin, kain batik, hingga aksesori. Sedangkan ruangan ketiga Ruang Batik Vorstendlanden, berisi koleksi batik milik Sultan Hamengkubuwono VII dan VIII dari Yogyakarta, serta Sunan Pakubuwono X dan XII dari Solo.

Ruang batik pesisiran merupakan ruangan keempat yang berisi aneka batik pesisir seperti batik dari Pekalongan. Selain alat-alat membatik, batik pedalaman yang berwarna tunggal namun bercorak elok menjadi koleksi ruangan ini.

Ruang Putri Dambaan adalah ruangan kelima yang paling menarik. Dinamakan demikian karena berisi foto-foto dan lukisan-lukisan Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Koesoemawardhani, putri tunggal Mangkunegoro VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timoer yang terkenal cantik. Ruangan ini diresmikan sendiri Gusti Noeroel pada 2002, tepat saat ulang tahunnya ke-81.

Saking ayunya, Gusti Noeroel sampai dilamar Presiden Soekarno, Perdana Menteri Sutan Sjahrir, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, serta Kolonel GPH Djatikusumo. Namun, semua lamaran itu ditampiknya lantaran menolak poligami. Dia menyaksikan sendiri penderitaan batin ibunya yang dipoligami ayahnya. Gusti Noeroel akhirnya menikah dengan Letkol Raden Mas Soejarsoejarso Soerjosoerarso, atase militer Indonesia pertama di Amerika Serikat.

Sambil menunjuk sebuah foto, Ayu berkisah kepada rombongan pengunjung Museum Ullen Sentalu, “Ini foto Gusti Noeroel menari Sari Tunggal untuk kado perkawinan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard di Belanda pada 6 Januari 1937.” Waktu itu usia Gusti Noeroel baru 16 tahun. Selain cantik, Gusti Noeroel didamba banyak lelaki lantaran kepiawaian tradisionalnya menari dan membatik, walau dia seorang perempuan modern yang pandai berkuda, serta bermain tenis.

Setelah menyusuri lima ruangan Kampung Kambang, masih ada lagi Koridor Retja Landa yang memamerkan koleksi arca-arca Hindu maupun Buddha. Sedangkan Sasana Sekar Bawana mengoleksi lukisan raja-raja Mataram di antaranya ada yang beristri 20 dengan 19 anak, lukisan tarian sakral Bedhaya Ketawang, serta lukisan dan patung tata rias pengantin Yogyakarta. Di sini pula kami disuguhi segelas minuman Ratu Mas yang terbuat dari ramuan jahe, secang, dan lain-lain. 

“Selain berkhasiat untuk kesehatan, minuman buatan permaisuri Pakubuwono X ini juga bikin awet muda,” ujar Ayu sambil tersenyum.

Sesudah keluar bangunan Museum Ullen Sentalu, pengunjung boleh memotret di bagian luar. Sebuah replika relief Borobudur dipasang miring.

“Ini untuk menggambarkan keadaan masyarakat sekarang yang telah melupakan warisan budayanya,” kata Ayu sebelum pamit kepada pengunjung. Kami pun menghela napas panjang seraya menghirup hawa segar pegunungan. Arca-arca dan kolam ikan di taman museum seperti saksi bisu zaman yang berubah.


Editor : Tuty Ocktaviany