Cegah Covid-19, Begini Peran Penting Institusi Pendidikan dalam Penerapan Perubahan Perilaku 3M

Rizqa Leony Putri ยท Minggu, 20 September 2020 - 17:00 WIB
Cegah Covid-19, Begini Peran Penting Institusi Pendidikan dalam Penerapan Perubahan Perilaku 3M

Kemendikbud bekerja sama dengan Satgas Penanganan Covid-19 terus mengedukasi perubahan perilaku 3M kepada masyarakat. (Foto: Kemendikbud)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 terus mengedukasi perubahan perilaku 3M kepada masyarakat. Hal ini sejalan dengan angka penyebaran virus Covid-19 yang terus merangkak naik.

Adapun perilaku 3M di antaranya, yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Ketiga perilaku ini terus disosialisasikan di dunia pendidikan guna mencegah penularan virus corona.

Berdasarkan data per Juli 2020, tingkat kepatuhan 3M pada masyarakat meliputi kepatuhan jaga jarak sebesar 72 persen, mencuci tangan sebesar 80 persen, serta menggunakan masker sebesar 80 persen. Meskipun persentase tersebut terbilang baik, tetapi laju penyebaran Covid-19 masih terus meningkat.

Tercatat sebanyak 649.192 satuan pendidikan, 4.183.591 guru, 68.801.708 peserta didik, serta 42.972.397 keluarga peserta didik yang berpotensi menjadi agen perubahan perilaku di masa pandemi ini. Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Sonny Harry B. Harmadi menuturkan bahwa institusi pendidikan menjadi salah satu yang berperan penting dalam penerapan perubahan perilaku 3M.

“Dari berbagai institusi di Indonesia, salah satu institusi paling penting perannya adalah institusi pendidikan, karena jika kita bisa melakukan penerapan perubahan perilaku 3M melalui institusi pendidikan dengan cepat maka setidaknya menjangkau 115 juta orang di Indonesia,” ucap Sonny dalam Webinar Edukasi Perubahan Perilaku 3M, Jumat (18/9/2020).

Menurut Sonny, terjadinya perubahan perilaku dalam masyarakat dapat didorong dengan motivasi untuk berubah. Hal itu dapat dimunculkan dari kesadaran dalam diri maupun paksaan pihak luar.

Melalui institusi pendidikan, lanjut Sonny, diharapkan dapat memotivasi masyarakat dari dalam dirinya. Di antaranya melalui tiga subbidang strategi perubahan perilaku dimulai dari sub-bidang edukasi, sosialisasi dan mitigasi.

“Di subbidang edukasi sudah dirancang beberapa strategi, di satuan pendidikan sangat penting dengan cara melakukan nude atau dorongan, mendorong perilaku yang diharapkan menjadi sebuah pilihan yang mudah dilakukan,” kata Sonny.

Kemendikbud diminta untuk terlebih dahulu mengedukasi peserta didik terkait perilaku patuh protokol Covid-19 sebelum dimulainya proses pembelajaran. Edukasi dapat dilakukan melalui media video, audio, karikatur, maupun ilustrasi.

"Sebelum proses belajar dimulai perlu penyampaian materi edukasi bisa berupa video, audio, karikatur atau ilustrasi selama 1-2 menit tentang protokol kesehatan 3M," ujar Sonny.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Ketua Subbidang Edukasi Perubahan Perilaku, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Harris Iskandar menjelaskan bahwa penerapan perilaku 3M merupakan salah satu "vaksin" yang bisa digunakan saat ini untuk menghindari Covid-19. Oleh karena itu, diharapkan masyarakat dapat menumbuhkan kesadarannya untuk menerapkan 3M.

“Jika setiap individu berhasil menumbuhkan kesadaran untuk menerapkan 3M dengan cara menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Karena ini satu-satunya vaksin yang ada saat ini bagi masyarakat, khususnya orangtua atau guru pendidik untuk menjaga anak didiknya dari paparan Covid-19,” kata Harris.

Tak hanya itu, Harris menyampaikan segmentasi dalam perubahan perilaku 3M dalam institusi pendidikan berfokus pada peserta didik, mulai dari PAUD hingga mahasiswa. Diharapkan para pendidik, seperti halnya guru dan dosen dapat disiplin menerapkan 3M melalui QNA, sosialisasi webinar, media cetak elektronik, kampanye, serta lomba-lomba menarik.

Editor : Tuty Ocktaviany