Digunakan untuk Redakan Kerusuhan, Ini Fakta Seputar Gas Air Mata

Siska Permata Sari · Rabu, 22 Mei 2019 - 22:13 WIB
Digunakan untuk Redakan Kerusuhan, Ini Fakta Seputar Gas Air Mata

Massa aksi demonstrasi masih bertahan di sekitar Gedung Badan Pengawas Pemilu. (Foto: iNews.id/Aditya Pratama)

JAKARTA, iNews.id - Gas air mata sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Ini kerap digunakan untuk membubarkan massa saat terjadi kericuhan saat demonstrasi, seperti yang terjadi di Jakarta pada 22 Mei 2019.

Namun, apa itu gas air mata? Mengutip dari Mental Floss, gas air mata adalah agen lachrymatory yang dapat mengiritasi selaput lendir mata, hidung, mulut, dan paru-paru.

Bahkan tak jarang, gas air mata bisa menyebabkan batuk, sensasi terbakar, sesak dada, dan kesulitan bernapas. Pada konsentrasi yang lebih tinggi, paparan dapat menyebabkan iritasi lambung yang menyebabkan muntah dan diare.

Senyawa kimia yang menyebabkan hal tersebut umumnya mengandung bromoaseton, benzil bromida, kloroasetofenon, etil iodoasetat, kloropikrin bromobenzil sianida, dan xilena yang tersubstitusi bromin.

"Gas pada konsentrasi satu miligram per meter kubik akan menyebabkan gejala iritasi. Dari sana, segalanya menjadi sangat buruk dengan cepat," kata ahli toksikologi Jerman Uwe Heinrich, seperti dikutip dari Mental Floss, Rabu (22/5/2019).

Lebih lanjut, jumlah gas air mata yang lebih besar yakni sepuluh hingga 20 mg per meter kubik atau lebih tinggi dapat menyebabkan cedera serius.

Hal yang dapat dilakukan ketika terpapar oleh gas air mata adalah menjauh dan mencari udara segar. Untuk paparan dosis tinggi atau paparan di ruang tertutup, oksigen botol atau obat asma tertentu dapat diberikan untuk menangani kesulitan bernapas.

Selain itu, setiap kulit yang terpapar harus dicuci dengan sabun dan air. Kemudian mata harus dibilas dengan air steril atau larutan garam.


Editor : Tuty Ocktaviany