Hari Anak Nasional: Anak-Anak Terancam Kehilangan Pengasuhan di Tengah Covid-19

Vien Dimyati ยท Kamis, 23 Juli 2020 - 16:25 WIB
Hari Anak Nasional: Anak-Anak Terancam Kehilangan Pengasuhan di Tengah Covid-19

Peringatan Hari Anak Nasional 2020 (Foto : Ist)

JAKARTA, iNews.id - Peringatan Hari Anak Nasional 2020 menjadi momentum untuk memperjuangkan hak-hak anak Indonesia. Salah satunya hak anak untuk mendapatkan pengasuhan di tengah masa Pandemi Covid-19.

National Director SOS Children’s Villages Indonesia, Gregor Hadi Nitihardjo mengatakan, SOS Children’s Villages menyerukan kepada pemerintah dan institusi untuk menjadikan anak-anak yang telah atau terancam kehilangan pengasuhan orang tua sebagai prioritas.

"Semua tindakan dan peraturan untuk menangani pandemi juga harus menghormati hak anak secara penuh. Seluruh hak anak harus dilindungi, didukung, dan dipertimbangkan dalam tanggapan terhadap wabah Covid-19 dan akibatnya," kata Gregor Hadi Nitihardjo, melalui keterangan tertulisnya, Kamis (23/7/2020).

Menurut Gregor, kepentingan terbaik anak harus menjadi pertimbangan yang utama pada saat membentuk langkah-langkah ini, yang harus mematuhi prinsip non-diskriminasi, hak untuk bertahan hidup dan berkembang, serta hak partisipasi yang telah diabadikan dalam Konvensi Hak Anak.

"Anak dan remaja harus dilibatkan secara aktif dalam membuat keputusan mengenai kesejahteraan dan asuhan mereka. SOS Children’s Villages berpegang teguh pada kepentingan terbaik anak dan pemenuhan hak-hak mereka. Mereka berhak mendapatkan yang terbaik," ujarnya.

Menurutnya, pandemi Covid-19 memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang bagi anak-anak. Lebih dari 82% pelajar atau 1.54 miliar anak di seluruh dunia tidak bisa pergi ke sekolah karena Covid-19.

Selain itu, penutupan sekolah mengganggu proses belajar anak dan remaja yang hidup di daerah dengan kondisi rentan, tidak memiliki akses alat-alat untuk belajar jarak jauh, atau sekolahnya kekurangan sumber daya untuk murid-muridnya.

"Keadaan ini dapat memperburuk ketimpangan yang sudah ada sebelumnya. Bahkan, beberapa dari mereka mungkin saja tidak bisa kembali ke sekolah ketika pandemi ini sudah terkendali dan meskipun kebijakan lockdown dihapuskan," kata dia.

Selain itu, dari total 2,2 miliar anak di dunia, sekitar 140 juta di antaranya telah kehilangan salah satu atau kedua orangtuanya karena berbagai penyebab.

SOS Children’s Villages memperkirakan, sekitar 10% dari seluruh anak di dunia (1 dari 10 anak) telah atau terancam kehilangan pengasuhan orangtua/keluarganya.

Sebagai tambahan, SOS Children’s Villages sudah mempelajari epidemi Ebola di masa lalu menyebabkan setidaknya 16.600 anak kehilangan salah satu orangtua atau pengasuhnya dan 3.600 anak kehilangan kedua orangtuanya.

"Penyebaran pendemi Covid-19 saat ini dapat menambah angka-angka tersebut dan kita harus memastikan perlindungan anak sudah dipersiapkan untuk merespons dampak ini dengan mencegah keterpisahan keluarga dan menjamin pengasuhan berkualitas untuk setiap anak," katanya.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut, hingga 15 Juni lalu ada 3.064 anak terkonfirmasi positif Covid-19 dan 28 di antaranya meninggal dunia.

Ini menjadi salah satu perhatian SOS Children’s Villages, anak-anak tak hanya terdampak oleh pandemi, tetapi dalam beberapa kasus juga menjadi korban dari Covid-19 itu sendiri.

"Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, memiliki dampak mendalam bagi kita semua. Hal yang paling terasa untuk disoroti adalah banyaknya keluarga kehilangan mata pencaharian hingga kesulitan memenuhi kebutuhan utama harian," katanya.

SOS Children’s Villages Indonesia ikut bergerak melihat situasi saat ini. Lebih dari 5.500 anak yang diasuh SOS dan dari keluarga rentan dampingan menjadi perhatian utama dalam kondisi krisis pandemi ini.

SOS Children’s Villages berkomitmen untuk memastikan semua hak-hak mereka terpenuhi. Saat ini mereka membutuhkan bantuan dan perhatian bahkan lebih besar daripada sebelumnya.

Sejak awal bulan Juli 2020, SOS Children’s Villages membuat rangkaian kegiatan untuk menyambut Hari Anak Nasional dengan mengusung tagline “Anak Indonesia adalah Anak Kita” dan hastag #TogetherforChildren #NoChildAlone.

"Kami ingin mengingatkan masyarakat Indonesia, masih banyak anak-anak yang terpinggirkan hak-haknya, terutama di tengah pandemi ini semakin besar jumlah anak yang rentan," katanya.

Sebagai orang dewasa, dia mengajak masyarakat bersama-sama memastikan tidak ada anak yang hidup tumbuh kembang sendirian. Selama sebulan penuh, SOS Children’s Villages melibatkan seluruh masyarakat, dan tentunya anak-anak, untuk terlibat langsung dalam rangkaian acara ini.

SOS Online Class memberikan kesempatan kepada tokoh masyarakat dan praktisi untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan mereka kepada anak-anak sehingga dapat menambah ilmu baru dan menjaga produktivitas anak-anak.

Salah satunya dari klub bola Persita yang berbagi pengalaman. Live Talks di Instagram juga secara rutin dilakukan dengan topik yang berhubungan dengan pemenuhan hak anak.

"Anak-anak dalam pengasuhan SOS juga diberikan kesempatan untuk menunjukkan diri mereka dengan melakukan Children Take Over Instagram. Para mitra korporasi juga diajak berkumpul mendiskusikan pemenuhan hak remaja di kegiatan Virtual Gathering, dan terakhir masyarakat bisa berlari sejauh 2,3 kilometer sambil berbagi lewat kegiatan Run For Children," katanya.

Gregor menambahkan, orang dewasa ataupun anak-anak dapat langsung mendaftar dan memilih kado yang diberikan untuk anak Indonesia lewat aplikasi 99 Virtual Race. SOS juga secara berkelanjutan terus-menerus menyuarakan isu-isu anak yang patut menjadi perhatian di tengah pandemi yang kemudian dilanjutkan pemaparan solusi tentang hal-hal yang dikerjakan SOS bagi ribuan anak dan keluarga rentan.

"Melalui rangkaian acara ini, SOS Children’s Villages berharap agar anak-anak bisa menyuarakan aspirasi mereka, belajar, berpartisipasi, hingga mengasah kreativitas untuk tumbuh kembang mereka," tuturnya.

Editor : Vien Dimyati