Ini Faktor Penyebab Masalah Kesehatan Jamaah Haji Indonesia di Arab Saudi

Tuty Ocktaviany ยท Minggu, 14 Juli 2019 - 06:21 WIB
Ini Faktor Penyebab Masalah Kesehatan Jamaah Haji Indonesia di Arab Saudi

Para jamaah haji Indonesia diingatkan untuk menjaga kesehatan. (Foto: AFP)

MADINAH, iNews.id - Kasus kesakitan dan kematian terjadi pada jamaah haji Indonesia setiap tahun. Umumnya, semua jenis penyakit disebabkan oleh empat faktor utama, yakni air, suhu, kelelahan, dan adaptasi.

Hal itu diungkapkan oleh Dr. dr. Eka Jusup Singka, MSc, Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes saat memberi arahan pada para Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah, Jumat 12 Juli 2019. Eka mengumpulkan seluruh TKHI yang sudah berada di Madinah agar bisa melakukan penanganan jamaah sebaik-baiknya di tingkat kloter.

"Seluruh petugas kloter, Karu, Karom, dan jamaah harus berkolaborasi untuk mengendalikan faktor-faktor tersebut, salah satunya dengan program minum air bersama,” kata Eka dalam keterangannya kepada iNews.id, Minggu (14/7/2019).

Untuk bidang kesehatan atau kedokteran haji itu secara prinsip ada empat faktor utama yang harus diperhatikan oleh petugas kesehatan haji, yaitu kekurangan cairan atau dehidrasi, suhu atau cuaca yang panas, kelelahan fisik jamaah, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Penanganannya, kata dia, dengan melakukan rehidrasi untuk mengembalikan kecukupan cairan. Bagi jamaah yang sehat, dianjurkan untuk sesering mungkin minum air mineral atau air zam-zam tanpa menunggu haus. Sementara bagi yang sedang sakit atau terlihat lemas, segera diberikan infus yang adekuat.

“Waktu kunjungan ke kloter, saya lihat memang banyak sekali jamaah haji itu yang belum terpapar betul tentang pentingnya minum air, atau tahu tapi perilakunya belum,” kata Eka.

Eka mengatakan, menghadapi suhu yang tinggi di Arab Saudi, sengatan panasnya harus dikendalikan atau dihindari. Caranya dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang benar dan lengkap.

“Jamaah juga harus bisa mengendalikan aktivitasnya, jangan terlalu memaksakan diri. Masa tinggal jamaah haji di Arab Saudi selama sekitar 40 hari, tentu harus diatur dengan baik. Jamaah harus mengatur waktu istirahat yang cukup, agar pada saat puncak haji punya stamina prima,” katanya.

Keempat ialah kemampuan beradaptasi. Menurut Eka, sejauh mana jamaah bisa menyesuaikan diri dengan kondisinya saat di Tanah Suci.

“Kalau kita tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar, maka salah satunya dapat terjadi stress, bahkan gangguan kejiwaan berat. Jadi ini adalah kunci di mana saya sampaikan kepada seluruh TKHI dan PPIH untuk memperhatikan empat faktor ini,” ucap Eka.


Editor : Tuty Ocktaviany