Kenali Tanda-Tanda Depresi yang Bisa Mendorong Aksi Bunuh Diri

Siska Permata Sari ยท Selasa, 08 Oktober 2019 - 21:36 WIB
Kenali Tanda-Tanda Depresi yang Bisa Mendorong Aksi Bunuh Diri

Alami depresi. (Foto: George Herald)

JAKARTA, iNews.id - Perilaku bunuh diri karena depresi telah mencapai angka yang kritis pada 10 tahun belakangan ini. Apa penyebabnya?

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr Anung Sugihantono mengungkapkan, secara global World Health Organization (WHO) menyebutkan lebih dari 800.000 orang meninggal setiap tahunnya atau sekitar satu orang setiap 40 detik bunuh diri.

Tingkat prevalensi angka bunuh diri di negara berpenghasilan tinggi, ternyata lebih tinggi dibandingkan negara berpenghasilan rendah atau menengah, yakni 12,7 persen : 11,2 persen per 100.000 populasi. Tiga negara terbesar akan kasus bunuh diri per 100.000 populasi, yaitu Guyana, Korea dan Sri Lanka.

"Indonesia sendiri belum ada angka prevalensi nasional. Menurut penelitian dikatakan bahwa angka bunuh diri di Kota Jakarta pada 1995-2004 mencapai 5,8/100.000 penduduk. Begitupun laporan dari WHO di tahun 2010 menyebutkan angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1,6 hingga 1,8 persen per 100.000 jiwa," kata dr Anung Sugihantono, seperti dikutip dari siaran pers, Selasa (8/10/2019).

Sementara itu, Sekretaris PP Perhimpunan Dokter Spesiali Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dr Agung Frijanto mengatakan, konsekuensi seseorang apabila depresi tak tertangani maka akan meningkatkan risiko bunuh diri.

Dia menjelaskan, gejala depresi dapat dilihat dari tiga aspek, antara lain afek, kognitif, dan fisik. Gejala depresi pada afek dapat ditandai dengan sedih, hilangnya minat, iritabilitas, apatis, anhedonia, tak bertenaga, tak bersemangat, isolasi social, dan aniestas.

Gejala depresi secara kognitif dapat dicirikan dengan rendah diri, konsentrasi menurun, daya ingat menurun, ragu-ragu, rasa bersalah, ide bunuh diri. Selain itu, secara fisik dapat dilihat dari psikomotor menurun, fatigue, gangguan tidur, gangguan nafsu makan, dan hasrat seksual menurun.

Dia mengatakan, setiap orang perlu meningkatkan kepedulian antar sesama. Peran keluarga, kata dia, sangat penting dalam hal mencegah depresi lebih parah lagi.

"Poinnya bagaimana memberikan pemahaman kepada orangtua dan guru-guru di sekolah dasar. Pada kondisi remaja atau SMP/SMA kita bisa melakukan deteksi dini, kita bagikan instrument atau daftar pertanyaan untuk mengetahui apakan remaja tersebut depresi atau tidak," tutur dr Agung.


Editor : Tuty Ocktaviany