Mengenal Stroke, Penyakit yang Diderita Aktor Robby Tumewu

Sindonews, Tuty Ocktaviany ยท Senin, 14 Januari 2019 - 10:22 WIB
Mengenal Stroke, Penyakit yang Diderita Aktor Robby Tumewu

Robby Tumewu. (Foto: Koran Sindo)

JAKARTA, iNews.id – Aktor sekaligus desainer ternama Indonesia, Robby Tumewu pergi untuk selama-lamanya, Senin (14/1/2019) dini hari. Sebelum meninggal, Robby diketahui lama menderita stroke.

Rupanya tidak hanya Robby Tumewu yang meninggal karena terkena stroke. Sebelumnya, mantan rocker yang beralih profesi sebagai dai, Harry Moekti juga meninggal karena penyakit ini.

“Robby sudah 12 tahun berbaring di tempat tidur karena terkena stroke,” ucap Sonny Muchlison, sahabat Robby Tumewu yang sama-sama menekuni profesi sebagai desainer, Senin (14/1/2019).

Seperti diketahui, stroke merupakan kondisi di mana pasokan darah terganggu, berkurang akibat penyumbatan (stroke iskemik), atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Sementara tak ada darah yang mengalir, membuat otak tidak akan mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi, akibatnya sel-sel pada sebagian otak akan mati. Kondisi ini membuat tubuh yang dikendalikan oleh area otak menjadi rusak dan tidak dapat berfungsi.

Parahnya, penyakit ini bisa membuat sel otak mati hanya dalam hitungan menit. Namun dengan penanganan yang cepat dan tepat, hal ini dapat meminimalkan kerusakan. Dampak paling ringan yang disebabkan stroke adalah kecacatan yang memicu penderitanya lumpuh.

Stroke bahkan berdampak pada kematian penderita apabila tidak segera ditangani. Karena itu, deteksi dini penyakit stroke menjadi penting untuk diketahui guna meminimalisasi risiko.

Seperti diketahui, masa yang tidak boleh terlewati pasien stroke agar mendapat penanganan dini hanya tiga jam setelah stroke menyerang. Stroke kerap terjadi secara tiba-tiba dan gejala awal stroke ditandai dengan sakit kepala.

Sayang, gejala ini kerap dinilai sebagai gangguan kesehatan biasa saja sehingga banyak yang mengabaikan, meski pada dasarnya gejala stroke setiap pasien berbeda-beda.

Meski demikian, ada tiga gejala umum stroke yang mudah diketahui, yakni wajah terlihat menurun satu sisi, sehingga membuat pasien tidak bisa tersenyum.

Penderita stroke juga tidak bisa mengangkat salah satu lengan karena lemah atau mati rasa. Gejala umum lainnya adalah tidak jelas saat berbicara atau tidak bisa bicara sama sekali, meski dalam keadaan sadar.

Umumnya pasien stroke juga mengalami gejala lain. Selain sakit kepala hebat, pasien penyakit ini juga mengalami mual dan muntah, penurunan kesadaran, sulit menelan, gangguan pada keseimbangan dan koordinasi, serta hilangnya penglihatan secara tiba-tiba.

Dibandingkan pria, wanita lebih berisiko tinggi menderita stroke karena menstruasi sebelum usia 10 tahun, menopause sebelum usia 45, tingkat rendah hormon dehydroepiandrosterone (DHEAS) dan penggunaan pil KB.

"Banyak orang tidak menyadari bahwa perempuan menderita stroke lebih sering daripada pria dan angka kematian jauh lebih tinggi di kalangan wanita. Riwayat komplikasi kehamilan juga dapat mengindikasikan risiko stroke yang lebih tinggi. Masalah ini meliputi diabetes gestasional dan tekanan darah tinggi selama atau segera setelah kehamilan,”  kata peneliti Dr Kathryn Rexrode, seperti dilansir dari WebMD.

Sedangkan riset kesehatan dasar (RISKESDAS) Kementerian Kesehatan pada 2013 menunjukkan lebih dari dua juta penduduk atau 12 dari 1.000 penduduk menderita stroke dengan persentase terbesar berasal dari provinsi Sulawesi Selatan. Demikian dikutip dari Sindonews.


Editor : Tuty Ocktaviany