Pandemi Covid-19, Begini Cara Bedakan Batuk Pilek karena Alergi atau Infeksi

Antara ยท Kamis, 25 Juni 2020 - 17:41 WIB
Pandemi Covid-19, Begini Cara Bedakan Batuk Pilek karena Alergi atau Infeksi

Batuk bisa karena alergi atau infeksi. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id – Pandemi Covid-19 yang belum reda, membuat orang was-was jika mengalami sakit. Namun, ada cara untuk mengenali gejala batuk dan pilek yang Anda alami tergolong alergi atau infeksi.

"Covid-19 kan infeksi. Kalau di saluran napas bisa batuk, pilek karena alergi atau infeksi? Untuk membedakannya perhatikan ada tidak demam," ujar konsultan Alergi dan Imunologi Anak, Prof. Budi Setiabudiawan dalam virtual gathering Bicara Gizi "Allergy Prevention" dari Danone SN, Kamis (25/6/2020).

Selain itu, amati bagaimana kejadiannya misal batuk dan pileknya, apakah terjadi sepanjang hari atau lebih ke malam hari dan terakhir, perhatikan apakah dahak atau ingus berwarna dan kental.

Jika ada demam, lalu batuk pileknya muncul pagi dan malam hari serta dahak atau ingusnya kental dan berwarna, maka dia kemungkinan mengalami infeksi.

"Kalau alergi biasanya tidak disertai demam. Kejadian batuk pileknya terutama pada malam hari dan biasanya dahak atau ingusnya bening, tidak berwarna," tutur Budi.

Deteksi alergi

Budi menekankan pentingnya deteksi dini alergi, terutama pada anak agar bisa segera mendapatkan penanganan sehingga tidak menganggu tumbuh kembangnya. Alergi merupakan respons sistem imun yang tidak normal untuk mengenali bahan-bahan yang sebenarnya tidak berbahaya bagi orang lain.

"Deteksi dini dan nutrisi tepat mencegah alergi anak. Kalau tidak dicegah bisa menjadi komorbid pada anak yang menempatkannya rentan terkena Covid-19," tutur Budi.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyebut penduduk dunia mengalami alergi 30-40 persen. Lalu hingga 550 juga orang diketahui mengalami alergi makanan, salah satunya alergi susu sapi. Di Indonesia sekitar 7,5 persen anak mengalami alergi susu sapi.

Lebih lanjut, alergi biasanya dialami pada anak dengan bakat alergi, yakni diturunkan dari salah satu atau kedua orangtuanya. Jika kedua orangtua memiliki riwayat alergi maka berisiko membuat anak mereka 40-60 persen terkena alergi.

Risiko akan meningkat menjadi 60-80 persen jika orangtua memiliki manifestasi yang sama.

Bila hanya salah satu orangtua yang memiliki riwayat alergi, maka risiko anak terkena alergi sekitar 20-40 persen. Risiko anak terkena alergi masih tetap ada, yakni 5-15 persen bahkan jika orangtua tak memiliki riwayat alergi.

"Apabila dikenali dini, ditangani dini akan optimal tata laksana, sehingga tidak berlanjut ke penyakit seperti eksim, asma, rhinitis alergi. Kalau terlambat diagnosa, akan muncul dampak-dampak disebabkan penyakit alergi, dari sisi kesehatan misalnya meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti obesitas, hipertensi dan sakit jantung," tutur Budi.

Editor : Tuty Ocktaviany