Pebulutangkis Markis Kido Meninggal akibat Serangan Jantung, Waspadai Silent Killer 

Novie Fauziah · Senin, 14 Juni 2021 - 22:05:00 WIB
Pebulutangkis Markis Kido Meninggal akibat Serangan Jantung, Waspadai Silent Killer 
Dalam dunia medis, hipertensi atau tekanan darah tinggi disebut sebagai “The Silent Killer" sebagai pemicu serangan jantung karena sering tanpa keluhan. (Foto: Instagram/Yuni Kartika)

JAKARTA, iNews.id - Kabar duka datang dari bulutangkis Indonesia. Markis Kido, juara Olimpiade 2008 meninggal dunia Senin (14/6/2021) akibat serangan jantung saat bermain bulutangkis.

Informasi tersebut disampaikan mantan pebulutangkis tunggal putri, Yuni Kartika. "Iya, Markis meninggal karena serangan jantung pas lagi main bulutangkis," kata Yuni. 

Dalam dunia medis, hipertensi atau tekanan darah tinggi disebut sebagai “The Silent Killer" karena sering tanpa keluhan. Ini menjadi kontributor tunggal utama penyakit jantung.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018) prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1 persen. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan prevalensi hipertensi pada Riskesdas pada 2013 sebesar 25,8 persen.

Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia dr Erwinanto, Sp. JP(K), FIHA mengatakan, seseorang menderita hipertensi dan tidak dikontrol akan menjadi kontributor tunggal yang utama penyakit jantung. 

“Setiap peningkatan darah 20/10 mm Hg akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner 2 kali lebih tinggi,” ujarnya pada konferensi pers Hari Hipertensi Sedunia secara virtual, Kamis, 6 Mei 2021. 

Dokter Erwinanto menjelaskan, pada dasarnya hipertensi bisa dicegah dengan mengendalikan perilaku berisiko seperti merokok, diet yang tidak sehat (kurang konsumsi sayur dan buah, konsumsi garam berlebih), obesitas, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, dan stres. 

Sementara itu, Dokter Spesialis Jantung Rumah Sakit Premier Jatinegara,dr. Frits Reinier Wantian Suling, Sp.JP(K) mengatakan, saat ini hipertensi tercatat menjadi penyakit penyerta atau komorbid tertinggi dan berbahaya bagi pasien terinfeksi virus Covid-19 di dunia. Bahkan, sangat diwaspadai karena dapat memicu kematian, akibat komplikasi antara keduanya (hipertensi dan Covid-19). 

"Data terkini menyebutkan hipertensi merupakan komorbid tertingi Covid-19, di dunia termasuk di Indonesia, dengan perbandingan di AS sebanyak 56,6 persen, China 58,3 persen, Italia 49 persen serta Indonesia 50,5 persen," katanya. 

Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami hipertensi atau tidak, baiknya rutin memeriksan diri. Khususnya melihat tensi darah, yakni sebagai diagnosis pertama.

Editor : Dani M Dahwilani