Robby Tumewu Wafat, Stroke Adalah Penyakit Paling Mematikan di Dunia

Siska Permata Sari ยท Senin, 14 Januari 2019 - 10:24 WIB
Robby Tumewu Wafat, Stroke Adalah Penyakit Paling Mematikan di Dunia

Robby Tumewu di show Anne Avantie. (Foto: Antarafoto.com)

JAKARTA, iNews.id - Kabar duka kembali menyelimuti industri hiburan Tanah Air. Indonesia baru saja kehilangan sosok aktor Robby Tumewu  yang meninggal di usia 65 tahun, Senin (14/1/2019) dini hari.

Kabar duka tersebut disampaikan pihak keluarga melalui pesan singkat. Melalui kabar itu, rencananya jenazah bintang sinetron Kecil-kecil Jadi Manten tersebut disemayamkan di rumah duka Oasis, Tangerang.

Sebelum meninggal dunia, diketahui Robby Tumewu sempat menderita penyakit stroke sejak 2010 silam. Ya, stroke memang menjadi penyakit tak menular paling mematikan selain serangan jantung.

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) tahun 2012, mencatat sekira 17,7 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Sebesar 7,4 juta di antaranya disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Sementara 6,7 juta lainnya disebabkan oleh stroke.

Namun, meskipun stroke menjadi penyakit paling mematikan di dunia, penyakit ini bisa dicegah atau dideteksi dini. Melansir dari situs kesehatan WebMD, ada tanda-tanda peringatan stroke yang bisa dideteksi sejak awal, sehingga bisa dilarikan ke rumah sakit sebelum terlambat.

Gejala pertama yaitu mati rasa di satu sisi area wajah, lengan, atau kaki. Kemudian, kebingungan atau kesulitan memahami orang lain, kesulitan berbicara, kesulitan melihat dengan satu atau dua mata, memiliki masalah keseimbangan saat berjalan, pusing, dan sakit kepala yang parah tanpa disertai alasan.

Sementara itu untuk penyebab atau faktornya sendiri, dijelaskan oleh dokter spsialis syaraf berbasis di Surabaya Prof Dr dr Moh. Hasan Machfoed, Sp.S(K), M.S. Dia mengatakan, banyak faktor yang melatari seseorang terkena penyakit mematikan kedua di dunia setelah jantung iskemik tersebut.

"Faktornya itu banyak. Pola hidup tidak sehat, stres, gangguan keseimbangan hidup, dan pola makan. Obesitas, diabetes, hipertensi, itu faktornya," tutur dr Moh Hasan, saat ditemui awak media di Jakarta, belum lama ini.


Editor : Tuty Ocktaviany