Serangan Jantung Sering Terjadi Pagi Hari, Kenali Gejalanya

Vien Dimyati ยท Sabtu, 30 November 2019 - 14:13 WIB
Serangan Jantung Sering Terjadi Pagi Hari, Kenali Gejalanya

Menjaga kesehatan jantung (Foto : The Heart Foundation)

JAKARTA, iNews.id - Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia, penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian dini di Indonesia, dengan persentasi sebesar 35% pada 2016 . Saat ini, kasus penyakit jantung semakin kompleks.

Bahkan, tidak sedikit penderita mengalami serangan jantung pada pagi hari. Lantas, apa yang menyebabkan serangan jantung sering terjadi pada pagi hari?

Kardiolog Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta, dr. Siska Suridanda Danny, Sp.JP(K) mengatakan, serangan jantung sering terjadi pada pagi hari dikarenakan berhubungan dengan irama sirkadian tubuh. Ada hormon yang akan membuat tubuh sangat aktif dan rentan terhadap serangan jantung.

"Tubuh manusia berhubungam dengan irama sirkadian. Hormon membuat tubuh kita aktif mulai naik sekitar pukul 4.00-5.00 pagi. Di titik itu tekanan darah kita paling tinggi dan detak jantung mulai cepat. Di titik itu pula kita rentan terkena serangan jantung," kata dr Siska di sela acara GE Healthcare Berkomitmen Meningkatkan Layanan Kardiologi Intervensi di Indonesia, Jakarta, belum lama ini.

Serangan jantung di pagi hari disebabkan oleh penyumbatan pasokan darah ke arteri koroner yang menyebabkan kerusakan otot-otot jantung. Irama sirkadian (siklus 24 jam internal tubuh) memengaruhi sejumlah faktor kardiovaskular, termasuk tekanan darah dan detak jantung.

Menurut dr Siska, sebelum serangan jantung terjadi pada pagi hari, ada baiknya setiap orang mengenal gejala-gejalanya. Salah satunya, dada terasa nyeri, tidak bisa beraktivitas. Bahkan, nyeri tersebut menjalar hingga ke ulu hati, punggung, dan lainnya.

"Jadi kenali lebih awal. Dada terasa nyeri berat, bukan clekit-clekit yang bisa ditunjuk dengan satu jari. Nyerinya serasa seperti ketiban lemari, disertai muntah, mual, pandangan berkunang,"

dr Siska menambahkam, jumlah kasus penyakit jantung yang terus meningkat di Indonesia dapat dikaitkan dengan peningkatan faktor risiko vaskular yang sebenarnya dapat dicegah. Misalnya seperti perubahan kebiasaan makan, peningkatan obesitas, dan konsumsi tembakau.

"Seiring dengan edukasi mengenai pencegahan yang menjadi aspek penting menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, dokter juga semakin membutuhkan teknologi terbaru untuk mengatasi kasus penyakit jantung yang kompleks dan meningkatkan hasil klinis yang lebih baik," kata dia.

Menurutnya, salah satu teknologi yang dibutuhkan oleh dokter untuk menangani kasus kompleks adalah cath lab yang dapat menfasilitasi tindakan kateterisasi jantung hingga revaskularisasi.

Khusus untuk kasus serangan jantung akut, tindakan revaskularisasi memberikan hasil paling baik pada pasien yang datang ke rumah sakit dalam waktu kurang 12 jam sejak awal terjadi serangan.

"Teknologi cath lab dapat membantu dokter mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mendiagnosis, dan memungkinkan dokter untuk memberikan pasien sejumlah pilihan perawatan dengan segera untuk menangani kasus yang kompleks dan mengancam jiwa," katanya.

Country Director GE Healthcare Indonesia, Putty Chandra mengatakan, GE Healthcare telah berkontribusi dalam meningkatkan perawatan kardiovaskular di Indonesia. Sebagai penyedia cath lab untuk layanan kesehatan publik dan swasta, dia menyadari bahwa teknologi saja tidak cukup.

"Kami terus bermitra dengan pelanggan kami untuk melatih para pengguna sistem cath lab, dan menawarkan layanan bernilai tambah bersama dengan mitra kami untuk memastikan dokter mampu menangani kasus-kasus yang rumit dan kompleks dengan percaya diri," katanya.


Editor : Vien Dimyati