Sinar Ultraviolet C Mampu Bunuh Virus Penyebab Covid-19? Ini Kata Pakar

Siska Permata Sari ยท Selasa, 25 Agustus 2020 - 17:26 WIB
Sinar Ultraviolet C Mampu Bunuh Virus Penyebab Covid-19? Ini Kata Pakar

Pandemi Covid-19 masih berlangsung hingga kini. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Virus corona (Covid-19) masih menjadi pandemi di ratusan negara di seluruh dunia. Termasuk Indonesia yang kini total angka positifnya mencapai lebih dari 157 ribu kasus sejak diumumkannya kasus pertama pada 2 Maret 2020 hingga hari ini, Selasa (25/8/2020).

Di tengah masih merebaknya virus tersebut dan pertambahan kasus setiap hari, muncul sebuah jenis teknologi baru untuk mendisinfeksi ruangan dan barang dari mikroorganisme seperti bakteri, jamur, protozoa hingga virus, termasuk virus penyebab Covid-19.

Adalah teknologi lampu atau alat steril dari sinar ultraviolet C (UV-C), yang kini banyak beredar di pasaran. Teknologi tersebut mengklaim dapat membunuh virus corona di ruangan, seperti pada perkantoran, supermarket, stasiun, transportasi umum, hingga tempat tinggal.

Tetapi di luar klaim tersebut, benarkah sinar UV-C dapat membunuh virus corona?

Pakar Biomedika Optik Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr rer nat Ir Aulia Nasution MSc, mengatakan, memang ada penelitian yang telah dipublikasi menunjukkan bahwa sinar UV-C dapat menonaktifkan beberapa mikroorganisme seperti bakteri, jamur, protozoa, dan virus.

“Ada publikasi yang menemukan bahwa bakteri bisa dinonaktifkan oleh sinar UV-C, protozoa, beberapa jenis virus juga seperti SARS dan MERS. Namun, kita tahu Covid-19 adalah virus baru, lalu kemudian beberapa ilmuwan juga melakukan penelitian dan menemukan bahwa ternyata ini bisa untuk melemahkan virus Covid-19 ini,” tutur Dr Aulia Nasition dalam Diskusi Daring, Selasa (25/8/2020).

Agar penggunaan teknologi sinar UV-C dapat maksimal dan aman bagi pengguna, tentunya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Mulai dari bagaimana menemukan dosis penyinaran atau disinfeksi yang tepat, bergantung dari ruangan dan potensi penyebaran mikroorganisme hingga standarisasi keamanan.

Sebab, sinar UV-C sendiri dapat memberikan dampak berbahaya bagi manusia dan hewan, apabila terpapar langsung oleh sinar tersebut.

“Sinar UV-C bisa menyebabkan dampak pada kulit dan mata, jadi mau tidak mau tidak boleh ada orang di situ (ketika proses disinfeksi atau sterilisasi ruangan),” tuturnya.

Dampak sinar UV-C sangat berbahaya jika terpapar oleh manusia, hewan, bahkan tumbuh-tumbuhan. Pada kulit manusia, sinar itu bisa menyebabkan lesi, sensasi terbakar, hingga yang paling parah adalah kanker. Kemudian pada mata, bisa menyebabkan katarak.

Di samping disinfeksi ruangan, hal yang tak kalah penting adalah melakukan upaya pencegahan dari setiap individu. Hal itu diungkapkan Dr Hermawan Saputra, SKM, MARS, CICS, selaku Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

“Oleh karena itu, yang bisa kita lakukan adalah pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Itu sudah tidak bisa ditawar lagi,” ujar Dr Hermawan.

Menurutnya, manajemen orang, ruang, dan barang ini harus dilakukan pendekatan yang sama. Sebab, mikroorganisme tak hanya bisa hidup di tubuh manusia, tapi juga pada barang dan ruang, dalam hal ini yakni udara.

Editor : Tuty Ocktaviany