Talasemia Jadi Penyakit dengan Beban Biaya Tinggi, Begini Cara Mencegahnya

Siska Permata Sari · Senin, 20 Mei 2019 - 21:39 WIB
Talasemia Jadi Penyakit dengan Beban Biaya Tinggi, Begini Cara Mencegahnya

Biasakan cek kesehatan agar bebas dari penyakit. (Foto: Rubyhospital)

JAKARTA, iNews.id - Talasemia merupakan salah satu penyakit genetik  kelainan darah yang cukup banyak diderita masyarakat di dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, frekuensi gen (angka pembawa sifat) talasemia tergolong cukup tinggi hingga dijuluki sebagai 'sabuk talasemia'.

Di Indonesia, tercatat angka penderita talasemia mayor mencapai 9.121 pasien. Sementara itu untuk frekuensi gen atau angka pembawa sifat talasemia, terdapat tujuh persen atau sekira 20 juta jiwa.

Dokter penyakit dalam Dr dr Tubagus Djumhana Atmakusuma, SpPD- KHOM mengatakan, tingginya angka talasemia, baik talasemia minor, intermedia dan mayor disebabkan oleh kurangnya kewaspadaan terhadap penyakit tersebut. Padahal jika penanganan terlambat, khususnya untuk talasemia mayor, akibatnya bisa fatal.

"Untuk talasemia mayor, penanganannya tidak boleh terlambat. Jika terlambat bisa meninggal kalau tidak segera transfusi," kata dr Tubagus di Hari Talasemia Sedunia, Gedung Kemenkes RI, Kuningan, Jakarta, Senin (20/5/2019).

Sementara itu dokter spesialis anak RSCM dr Teny Tjitra Sari, SpA(K) mengatakan, talasemia adalah penyakit tak menular (PTM) yang dibawa oleh faktor keturunan. "Ini penyakit kelainan darah merah yang diturunkan dari kedua orangtua pada anaknya," kata dr Teny di kesempatan yang sama.

Disebut sebagai penyakit berbiaya tinggi, pembiayaan kesehatan untuk tatalaksana talasemia menempati posisi lima di antara penyakit tidak menular lainnya, yaitu setelah penyakit jantung, kanker, ginjal, dan stroke.

"Anak yang menderita talasemia mayor, itu rata-rata menghabiskan Rp300 juta-Rp400 juta per anak per tahun," tutur dr Teny.

Adapun data memaparkan, talasemia menghabiskan dana sebesar Rp225 miliar pada 2014, kemudian menjadi Rp452 miliar pada 2015, menjadi Rp496 miliar pada 2016, menjadi Rp532 miliar pada 2017, dan sebesar Rp397 miliar sampai dengan September 2018.

"Ini karena penderita talasemia mayor membutuhkan transfusi darah rutin seumur hidupnya, dan konsumsi obat kelasi besi secara teratur," kata dia.

Sementara untuk metode penyembuhan lainnya, dengan metode pencangkokan sumsum tulang, terapi sel punca, dan terapi gen yang berbiaya mahal dan belum dapat dilakukan di Indonesia.

"Talasemia minor umumnya tidak bergejala, maka itu dianjurkan untuk melakukan skrining talasemia melalui pemeriksaan darah," ucapnya.

Skrining atau pemeriksaan darah penting bagi remaja, terutama calon pengantin untuk mengetahui apakah calon ayah atau ibu tersebut memiliki gen pembawa sifat talasemia atau tidak. Pemeriksaan juga dapat dilakukan oleh ibu hamil untuk mengetahui apakah anaknya akan terlahir dengan talasemia atau tidak.


Editor : Tuty Ocktaviany