Virus Corona Mewabah, Kak Seto Ingatkan Jangan Lupakan Hak Anak

Dani M Dahwilani ยท Selasa, 31 Maret 2020 - 11:56 WIB
Virus Corona Mewabah, Kak Seto Ingatkan Jangan Lupakan Hak Anak

Kak Seto mengatakan, jika anak-anak mendapatkan gizi buruk akan berakibat fisiknya menjadi lemah dan mudah terpapar virus corona. (Foto: Raising Children)

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah terus melakukan berbagai cara dalam memutus mata rantai wabah virus corona (Covid-19). Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan telah memerintahkan pembatasan sosial dalam skala besar (PSSB).

Di tengah keadaan darurat ini, pemerhati dan aktivis anak Seto Mulyadi alias Kak Seto mengingatkan pemerintah dan masyarakat untuk tetap memperhatikan pemenuhan hak anak. Termasuk melindungi mereka dari penyakit serta gizi buruk agar tidk terpapar Covid-19.

"Saya berharap perubahan anggaran ini digunakan secara tepat sasaran, tidak bocor dan tidak dimanfaatkan kepentingan yang lain. Pemerintah melakukan ini demi kepentingan terbaik masyarakat Indonesia, tapi jangan sampai hak anak-anak dilupakan. Kalau sampai anak-anak mendapatkan gizi buruk tentu akan berakibat fisiknya menjadi lemah, dan mudah terpapar virus corona," ujar Kak Seto dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (31/3/2020).

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) ini menegaskan hak anak untuk bertumbuh dan berkembang dengan baik tetap harus dilindungi dan diperhatikan. Jangan sampai dukungan tumbuh kembang mereka terabaikan," tambah "Kita semua juga berdoa agar wabah Covid-19 segera berlalu," katanya.

Hal senada disampaikan Dr Rachmat Sentika SpA, mantan Deputi Kemenko PMK yang juga seorang aktivis kesehatan anak. Rachmat mengatakan 25 juta anak balita harus dilindungi di masa pandemi ini. Kesehatan mereka harus terjaga, imunisasi harus terus dilakukan hingga lengkap. Selain itu, walau dalam keadaan pembatasan sosial (social distancing) kesehatan dan status gizi mereka harus tetap diperhatikan dan dipantau.

“Pandemi adalah peristiwa jangka pendek yang akan berlalu, namun kesehatan dan kecukupan gizi anak akan berdampak besar dalam jangka panjang karena merekalah yang akan menjadi generasi penerus bangsa,” kata Rachmat.

"Walau saat ini konsentrasi tenaga medis dan otoritas kesehatan dikerahkan untuk mengatasi wabah Covid-19, namun anak anak harus tetap mendapat perhatian," ujarnya.

Dia mengingatkan, anggaran untuk mengatasi prevalensi stunting pada anak yang sudah dialokasikan jangan sampai tergerus untuk kepentingan lain. "Realokasi anggaran untuk atas Covid-19 bisa diambil dari pos lain," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, prevalensi stunting anak di Indonesia masih berada di angka 28,6 persen. Pemerintah menargetkan untuk menurunkan prevalensi stunting pada anak hingga 14 persen pada 2030. "Ini bukan pekerjaan mudah dan harus terus dikawal bersama. Untuk mengatasi stunting pada anak bisa dilakukan melalui pendekatan sensitif dan spesifik termasuk intervensi gizi melalui Pangan Khusus untuk Kebutuhan Medis Khusus (PKMK)," kata Rachmat.

Editor : Dani Dahwilani