Ternyata, Depresi Bisa Antarkan Seseorang Lakukan Bunuh Diri

Siska Permata Sari · Senin, 11 Juni 2018 - 17:29 WIB

Kenali tanda-tanda depresi pada diri anda. (Foto: Freepik).

JAKARTA, iNews.id - Belakangan ini kita baru saja kehilangan para tokoh yang menjadi pakar di bidangnya masing-masing karena bunuh diri. Misalnya yang baru saja terjadi adalah kematian desainer terkemuka dunia Kate Spade dan koki selebriti sekaligus tokoh televisi Amerika Serikat, Anthony Bourdain.

Keduanya sama-sama mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri. Kate Spade ditemukan meninggal dunia, diduga akibat bunuh diri di apartemennya New York, 5 Juni 2018.

Sementara hal yang sama terjadi pada Bourdain yang ditemukan meninggal akibat bunuh diri oleh temannya, Eric Ripert di kamar hotelnya Kaysersberg-Vignoble, Prancis, 8 Juni 2018.

Dua kematian tokoh terkenal ini mengingatkan lagi soal keterhubungan antara derita mental seperti depresi dengan tingkat angka bunuh diri. Seorang internis dan Direktur Perawatan Primer Universitas Chicago, Alex Lickerman mengemukakan korelasi antara depresi dengan pemikiran bunuh diri.

Menurut dia, hubungan depresi, ketidakpedulian sekitar, dan tindakan bunuh diri memiliki keterkaitan yang kuat. "Mereka depresi. Tanpa pertanyaan, ini alasan paling umum orang melakukan bunuh diri," kata Lickerman, dikutip dari Psychology Today, Senin (11/6/2018).

Dia mengatakan, depresi berat yang membawa penderitanya ke arah pemikiran bunuh diri adalah penderitaan yang meluas. "Seperti tanpa harapan, rasa sakit yang terlalu berat untuk ditanggung," kata dia.

Para penderita depresi juga cenderung memiliki pemikiran jika dirinya tak dibutuhkan siapa pun. "Mereka punya gagasan, semua orang akan lebih baik tanpa saya sebagai alasan rasional bunuh diri," kata pria sekaligus penulis The Undefeated Mind: On the Science of Constructing an Indestructible Self.

Meskipun demikian, dia menegaskan bahwa orang yang memikirkan hal tersebut tak bisa disalahkan. Sebab, itulah dampak yang disebabkan oleh depresi.

"Mereka tidak boleh disalahkan karena menjadi korban pikiran terdistorsi seperti itu. Sama halnya dengan seorang pasien jantung yang tak bisa disalahkan karena mengalami nyeri dada, itu hanyalah sifat penyakit mereka," ucapnya.

Dia mengatakan, depresi bisa diobati, asalkan semua pihak berperan untuk mengenali tanda-tanda depresi pada diri sendiri maupun orang terdekat. Di sini komunikasi menjadi kunci penting yang vital untuk mencegah terjadinya bunuh diri.

"Sering kali orang menderita dengan diam-diam, merencanakan bunuh diri tanpa ada yang tahu. Jika Anda mencurigai seseorang mungkin depresi, pastikan untuk peduli dan bertanya agar bisa mencegah ide bunuh diri," katanya.


Editor : Adhityo Fajar

KOMENTAR