Adegan Koboi Jadi Kelebihan Buffalo Boys Dibanding Film Lain

Diaz Abraham ยท Rabu, 11 Juli 2018 - 22:28 WIB
Adegan Koboi Jadi Kelebihan Buffalo Boys Dibanding Film Lain

Yoshi Sudarso ikut meramaikan film Buffalo Boys. (Foto: iNews.id/Diaz Abraham)

JAKARTA, iNews.id - Dunia perfilman Indonesia akan kehadiran satu film laga dengan latar belakang sejarah penjajahan di Indonesia tahun 1800-an berjudul Buffalo Boys. Ini berbeda dengan film sejarah pada umumnya karena menampilkan adegan koboi yang lekat dengan budaya Barat.

Film arahan sutradara Mike Wiluan ini menceritakan kekejaman penjajah saat berada di sebuah perkampungan Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Selain itu, ada unsur balas dendam yang dilakukan oleh dua orang anak sultan karena ayahnya dibunuh penjajah.

Anak sultan tersebut diperankan oleh Yoshi Sudarso (Suwo), Ario Bayu (Jamar). Agar nyawa keduanya selamat, mereka dibawa oleh pamannya bernama Arana yang diperankan aktor kawakan Indonesia, Tio Pakusadewo.

Di sana keduanya belajar menjadi seorang koboi dan setelah 20 tahun meninggalkan kampung halaman, mereka kembali untuk membalas dendam, serta menegakkan keadilan.

Walaupun bercerita tentang sejarah Indonesia, tapi film ini juga menampilkan adegan koboi. Bahkan dalam trailernya, banyak adegan laga yang disajikan dengan gaya koboi.

Menurut Yoshi, hal ini merupakan kelebihan film Buffalo Boys dibanding film bergenre sejenis. Paduan antara sejarah Indonesia dengan koboi juga hal yang baru dibuat.

"Adegan koboi itu populer di sini karena di cerita ini aku memerankan Suwo, anak bungsu sultan. Kakanya, Jamar, diperankan sama Ario Bayu. Dititip ke paman kita untuk datang ke Amerika dan kita jadi koboi di situ," katanya ketika ditemui iNews.id di studio F Thing, Jakarta, Selasa 10 Juli 2018.

Selain tiga orang tersebut, film produksi Infinite Studios yang bekerja sama dengan Zhao Weil Films (Singapura) dan Screenplay Infinite Films ini juga melibatkan Pevita Pearce (Kiona), Mikha Tambayong (Sri), Happy Salma (Seruni), Reinout Bussemaker (Van Trach), dan Alex Abbad (Fakar).


Editor : Tuty Ocktaviany