Bahaya Penyakit Stunting di 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Dani M Dahwilani · Minggu, 16 September 2018 - 19:59 WIB
Bahaya Penyakit Stunting di 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak usia di balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. (Foto: Dok/Kemenkes)

JAKARTA, iNews.id - Apa itu stunting? Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak usia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Stunting menghambat perkembangan otak dan tumbuh kembang anak sehingga berpengaruh pada kesehatan dan produktivitas mereka sesudah dewasa.

Dr Damayanti Rusli SpA(K), dokter spesialis anak yang bertahun-tahun mengamati masalah stunting mengemukakan, upaya memutus mata rantai kasus stunting pada anak harus dilakukan secara serius. Yaitu, melalui pemantauan gizi dan kesehatan rutin, serta intervensi gizi tepat pada anak, yang terindikasi mengalami gagal tumbuh.

"Tenaga kesehatan harus benar-benar terlatih dalam melihat dan memantau anak yang memiliki masalah gizi kronis dan ada gejala gagal tumbuh. Jika gagal ditangani, maka akan timbul kasus stunting yang berdampak panjang," ujar Danayanti, dalam keterangan pers yang diterima iNews.id, Minggu (16/9/2018).

Atas dasar itu, Kepala Kantor Staf Kepresidenan, Menteri Kesehatan Nila Moeloek dan serta kalangan swasta mendeklarasikan pencegahan stunting di Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Program ini sebagai upaya penyadaran akan pentingnya dukungan semua pihak dalam mewujudkan target prevalensi stunting dari 37,2 persen pada 2013, menjadi 28 persen pada 2019.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengapresiasi kampanye nasional pencegahan stunting tersebut. Namun, kebijakan pencegahan stunting ini harus diawali dengan evaluasi terhadap kebijakan yang ada dan terobosan kebijakan baru untuk mempercepat penurunan angka prevalensi stunting menjadi 28 persen pada 2019.

“Kalau bicara ASI eksklusif, sanitasi, pemberian makanan tambahan, akses air bersih, semua itu sudah sering dikemukakan dan dilakukan bertahun-tahun, namun hasilnya ya begitu begitu saja, prevalensi stunting masih tinggi. Coba diteliti lagi, mungkin perlu ada intervensi spesifik jika anak terindikasi gagal tumbuh. Pakar kesehatan dan anak di Indonesia berlimpah, mereka pasti tahu apa yang kurang dilakukan dan bisa belajar dari pengalaman negara lain,” ujar Agus.

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko menyadari stunting tidak hanya terjadi pada keluarga miskin, tapi juga pada anak keluarga kaya di kota maupun desa. "Jika tidak diatasi, investasi apapun yang dilakukan pemerintah dalam pengembangan sumber daya manusia menjadi tidak optimal,” katanya.

Untuk itu, Kantor Staf Kepresidenan diharapkan dapat mengawal dan menjadi koordinator dalam mendorong dikeluarkannya terobosan baru terkait kebijakan pencegahan stunting dan penanganan gagal tumbuh balita di Indonesia.


Editor : Dani Dahwilani