Kasus Prostitusi Artis, Mytha Lestari: Biarkan Tuhan yang Mengadili

Siska Permata Sari ยท Minggu, 13 Januari 2019 - 13:14 WIB
Kasus Prostitusi Artis, Mytha Lestari: Biarkan Tuhan yang Mengadili

Mytha Lestari. (Foto: Instagram)

JAKARTA, iNews.id - Kasus prostitusi online yang melibatkan sejumlah artis Tanah Air, menghebohkan jagat hiburan Indonesia. Tak sedikit pula para selebriti yang turut mengomentari fenomena ini. Salah satunya musisi Mytha Lestari.

Pelantun lagu 'Aku Cuma Punya Hati' tersebut mengemukakan pendapatnya terkait kasus prostitusi yang melibatkan sejumlah nama selebriti Tanah Air.

"Baru lihat orang-orang yang ikutan prostitusi online yang akhirnya dikuak semua namanya. Dan pertanyaan gw adalah: haruskah hanya pemainnya aja yang dikuak, yang notabene semuanya wanita, sedangkan client nya aman ga dipublish dimana-mana, kenapa? Karena mereka bayar?" tulis Mytha, seperti dikutip dari Instagram Story miliknya, Minggu (13/1/2019).

Musisi asal Biak tersebut juga mempertanyakan, apakah harus pelaku prostitusi online meminta maaf pada publik di hadapan media. Menurut dia, lebih baik jika para pelaku tersebut diarahkan untuk meminta maaf pada Tuhan dan kedua orangtuanya.

"Lagian salah mereka sama masyarakat apa ya? Apakah masyarakat dirugikan? Logikanya yang mereka jual salah milik mereka sendiri bukan milik umum, jadi nggak perlu minta maaf ke masyarakat harusnya sih," tulis Mytha.

Meskipun mengaku tidak setuju dengan cara para perempuan tersebut mencari uang, namun dia menegaskan tak memiliki hak untuk mengatur cara orang lain menjalani hidup. Mytha bahkan mengajak untuk saling menghargai mereka sebagai sesama manusia dan sesama perempuan.

"Biarkan urusan mereka dengan Tuhannya, biarkan Tuhannya yang mengadili bukan kita, yang sama sederajat sebagai manusia biasa," tulisnya.

Sebelumnya diberitakan, Polda Jatim mengumumkan enam nama artis perempuan yang diduga terlibat dalam kasus prostitusi online. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera menyebutkan enam nama, yaitu Beby Shu, Fatya Ginanjarsari, Riri Febianti, Aldira Chena, Maulia Lestari dan Tiarra Permata Sari.

Data nama-nama tersebut diperoleh dari hasil olah digital forensik dengan membongkar riwayat percakapan di ponsel milik dua muncikari.


Editor : Tuty Ocktaviany