Pandemi Covid-19, Desainer Anggia Tetap Rilis Koleksi Hari Raya

Tuty Ocktaviany ยท Minggu, 10 Mei 2020 - 17:26 WIB
Pandemi Covid-19, Desainer Anggia Tetap Rilis Koleksi Hari Raya

Koleksi busana karya desainer Anggia. (Foto: IFC)

JAKARTA, iNews.id – Banyak bisnis yang terkena dampak dari pandemi virus corona baru (Covid-19), seperti fashion. Namun, kondisi ini tidak menghalangi para desainer untuk tetap berkarya merilis koleksi untuk Lebaran.

Sebelumnya ada Ivan Gunawan, Ria Miranda, dan Barli Asmara yang sudah meluncurkan koleksi Hari Raya, kini giliran Anggia. Desainer yang tergabung dalam Indonesian Fashion Chamber (IFC) Chapter Bandung ini memperkenalkan koleksi busana Muslim untuk Ramadan dan Idul Fitri.

Desainer sekaligus dokter gigi ini mengusung tema Down To Eart. Apa alasannya?

“Koleksinya terinspirasi dari kondisi saat ini, di mana banyak bencana alam, suhu bumi kian memanas dan ditambah dengan wabah Covid-19 yang menjadi pandemi Covid-19,” ucap Anggia dalam siaran pers yang diterima iNews.id, Minggu (10/5/2020).

Anggia menilai, kondisi saat ini merupakan ujian bagi manusia, bumi sedang dibersihkan. Imbasnya, perekonomian menurun dan berdampak di setiap aspek kehidupan.

Untuk koleksi kali ini, Anggia sudah mempersiapkan sejak lama. Sehingga dia sudah siap memperkenalkan koleksi meski dalam situasi pandemi Covid-19.

Koleksi Raya by Anggia terbagi dalam beberapa kategori, di antaranya syari, couple sarimbit, men’s wear, casual dan premium. Anggia mengetakan, koleksi baju syar’i dibuat dengan gaya romantic elegan, memiliki siluett A dan H dengan empat varian warna, yaitu hitam, hijau army, merah marun dan abu dan diproduksi secara massal.

“Ada yang berupa syar’i polosan dan diberi detail bordir sederhana. Material yang digunakan berbahan polyester, berupa dress dan khimar panjang,” katanya yang menyebut harganya berkisah Rp500.000-Rp750.000.

Koleksi sarimbit, kata Anggia, dibuat dengan gaya kasual, ready-to-wear, memiliki silhouet A dan H dengan detail berupa cutting sebagai aksen dan kombinasi motif.

“Material yang digunakan berbahan katun 100 persen. Target marketnya usia 30-60 tahun,” ujarnya.

Untuk koleksi men’s wear dan casual sporty, Anggia membuat tampilan yang berbeda. “Men’s wear dibuat dengan gaya casual, ready-to-wear, memiliki silhouet H dengan detail berupa cutting sebagai aksen dan kombinasi motif. Sementara koleksi casual bergaya sporty, memiliki silhouet I dan H,” katanya.

Sementara koleksi premium, kata Anggi, dibuat lebih spesial dengan gaya romantic elegan. Koleksinya menonjolkan siluet A dengan warna peach dan mocca.

Untuk mempermanis koleksinya, ada tambahan detail berupa bordir geometris dengan beads dan kristal. “Sementara material yang digunakan berbahan polyester, katun, dan tenun tenun. Target marketnya perempuan segmen menengah ke atas, dengan kisaran harga Rp1.500.000 sampai Rp2.500.000,” ucapnya.

Sebelumnya Anggia juga memperkenalkan koleksi Alat Pelengkap Diri (APD), karena dia juga seorang dokter gigi spesialis konservasi gigi (saluran akar gigi), lulusan Universitas Padjadjaran, Bandung. Ide itu muncul saat itu dia masih berpraktik dan menerima pasien konsul perawatan syaraf gigi.

“Saya mengamati pertambahan jumlah penderita positif Covid-19 terus bertambah, di mana kelangkaan masker semakin merajalela. Padahal, saya sangat membutuhkan masker untuk praktek saya sehari-hari,” ujar desainer yang sedang menempuh tugas akhir di Islamic Fashion Institute.

Dalam situasi itu, dia pun berinisiatif membuat masker kain untuk praktik. Sampai akhirnya, dia pun membuat medical suits yang terdiri dari coverall, surgical suits dan seragam baju ruangan dokter dan perawat.

“Semuanya itu saya gunakan ketika mendapat konsul pasien emergency. Namun ternyata, apa yang saya lakukan ini mendapat respons luar biasa dari teman seprofesi di kedokteran dan kedokteran gigi. Baik untuk medical suits dan masker setiap harinya,” katanya.

Memang tidak terlalu sulit baginya untuk memproduksi medical suits dan masker yang sesuai standar kesehatan. Pasalnya, setiap hari dokter pasti memakai masker dan perlengkapan lainnya juga digunakan ketika dalam ruangan bedah.

“Selain itu dari organisasi profesi pun mengeluarkan standard operational prosedure untuk penanganan pasien Covid-19, kostum apa saja yang kami gunakan sesuai level penggunaan penanganan pasien Covid-19,” ucapnya.

Editor : Tuty Ocktaviany