×
Berita Hari ini - iNews Portal

Ilmuwan Temukan Karat di Bulan, Diduga Disebabkan Kesalahan Bumi

Dini Listiyani ยท Sabtu, 05 September 2020 - 10:19:00 WIB
Ilmuwan Temukan Karat di Bulan, Diduga Disebabkan Kesalahan Bumi
Ilmuwan Temukan Karat di Bulan, Diduga Disebabkan Kesalahan Bumi

CALIFORNIA, iNews.id - Bulan selalu bersinar di langit malam. Namun, para ilmuwan menemukan fakta menarik soal Bulan yang perlahan-lahan mulai berubah.

Bulan sedang berkarat. Ya, berkarat. Permukaan Bulan memiliki banyak besi tapi tidak mempunyai atmosfer. Mars berwarkan oranye karena alasan yang sama.

Tapi, Mars memiliki sejarah panjang dan pada satu titik, atmosfer yang jauh lebih kuat menggabungkan oksigen dan air untuk mengubah permukaan planet menjadi oranye. Nah, Bulan tidak memiliki sejarah seperti itu tapi satelit alami Bumi ini mulai berkarat.

Penemuan, yang merupakan subjek dari makalah baru diterbitkan di Science Advances, dibuat menggunakan data dari pengorbit Chandrayaan-1. Pesawat luar angkasa yang diluncurkan oleh Indian Space Research Organization (ISRO) mempelajari susunan permukaan Bulan dari kejauhan.

Daerah Bulan ditemukan memiliki mineral yang disebut hematit, sejenis karat. Tanpa oksigen atau air cair di permukaannya, besi Bulan seharusnya tidak berkarat. Tapi, tampaknya tetap berkarat.

Para peneliti mempertimbangkan banyak kemungkinan mengapa hal ini bisa terjadi dan menemukan satu yang tampaknya cukup masuk akal. Karat bulan adalah kesalahan Bumi.

“Awalnya, saya sama sekali tidak percaya. Itu seharusnya tidak ada berdasarkan kondisi yang ada di Bulan. Tapi sejak kami menemukan air di Bulan, orang-orang berspekulasi mungkin ada lebih banyak variasi mineral daripada yang kita sadari jika air itu bereaksi dengan bebatuan,” kata Abigail Fraeman dari Jet Propulsion Laboratory NASA sebagaimana dikutip dari BGR, Sabtu (5/9/2020). 

Jadi darimana asal oksigen? Ternyata, meskipun atmosfernya kurang, Bulan memang memiliki sedikit oksigen yang mengambang, berkat planet induknya, Bumi.

“Jejak medan magnet Bumi di belakang planet seperti angin ribut. Pada 2007, pengorbit Kaguya Jepang menemukan oksigen dari atmosfer atas Bumi dapat menumpang pada jejak magnetotail ini, seperti yang dikenal secara resmi, menempuh jarak 239.000 mil (385,00 kilometer) ke Bulan,” ujar JPL.

Bulan dan Bumi tidak benar-benar berdekatan satu sama lain. Tapi, mereka cukup dekat sehingga ketika Bulan berada di tempat yang tepat, satelit alami  dapat mengambil oksigen dari Bumi. Tapi ini hanya satu setengah dari teka-teki, dan bahan besar lainnya yang harus diperhitungkan adalah air.

Para peneliti mengusulkan, partikel es air yang tersebar di Bulan berubah menjadi air ketika terkena debu dan puing-puing yang secara rutin menghantam permukaannya. Waktu perkawinan besi, air, dan oksigen ini harus sempurna, tapi mungkin ini adalah sumber karat Bulan.

Di masa depan, misi awak ke permukaan Bulan mungkin dapat mempertimbangkan hipotesis ini dan membuktikan atau membantahnya berdasarkan pengamatan dan pengumpulan data mereka sendiri.

Editor : Dini Listiyani

Tag: air di mars | air di bulan | misi bulan
ARTIKEL ORIGINAL