1 Juta Orang Berdemonstrasi di Cile, Tuntut Pengunduran Diri Presiden Pinera

Nathania Riris Michico ยท Sabtu, 26 Oktober 2019 - 16:13 WIB
1 Juta Orang Berdemonstrasi di Cile, Tuntut Pengunduran Diri Presiden Pinera

Satu juta warga berdemonstrasi di Santiago, Cile. (FOTO: AFP / PEDRO UGARTE)

SANTIAGO, iNews.id - Sebanyak satu juga warga Cile melakukan aksi demonstrasi di ibu kota Santiago pada Jumat (25/10/2019) waktu setempat. Ini merupakan demonstrasi terbesar sejak aksi kekerasan pecah pekan lalu karena ketimpangan yang mengakar di negara Amerika Selatan itu.

Para demonstran melabai-lambaikan bendera nasional, meniup peluit dan terompet, membawa dupa serta poster yang mendesak perubahan politik dan sosial. Mereka berjalan bermil-mil dari sekitar Santiago dan berkumpul di Plaza Italia.

Kerumunan demonstran yang berwarna warni membentang di sepanjang jalan setapak Santiago. Kehadiran mereka diiringi dengan kebisingan luar biasa memekakan telinga yang berasal dari dentingan panci beradu dengan sendok yang menjadi semacam soundtrack untuk aksi tersebut.

"Orang-orang, bersatu, tidak akan pernah bisa dikalahkan," teriak kerumunan orang, seperti dilaporkan dari Reuters, Sabtu (26/10/2019).

Pada Jumat pagi, truk, mobil, dan taksi melambat di jalan-jalan utama, membunyikan klakson dan mengibarkan bendera Cile.

Lalu lintas yang sudah padat dengan truk dan taksi, ditambah dengan aksi protes, membuat jalan tol terhenti di Santiago. Angkutan umum berhenti beroperasi jelang aksi demonstrasi yang berlangsung sepanjang sore.

Banyak pengemudi bus di Santiago melakukan walk-off pada Jumat setelah salah satu dari mereka ditembak.

Gubernur Santiago Karla Rubilar mengatakan hampir satu juta orang berbaris di ibu kota, lebih dari lima persen populasi negara itu.

"Hari ini adalah hari bersejarah," tulis Rubilar, di Twitter.

"Wilayah Metropolitan adalah tuan rumah bagi pawai damai hampir satu juta orang yang mewakili mimpi untuk Cile baru," sambungnya.

BACA JUGA: Aksi Unjuk Rasa di Cile, 5 Orang Ditemukan Tewas di Pabrik yang Sengaja Dibakar

Clotilde Soto, seorang pensiunan guru berusia 82 tahun, mengatakan bahwa dia turun aksi karena dia tidak ingin mati tanpa melihat perubahan.

"Yang terpenting, kami membutuhkan gaji dan pensiun yang lebih baik," katanya.

Menjelang sore, tidak ada tanda-tanda kekerasan atau bentrokan dengan pasukan keamanan, yang mempertahankan kehadirannya di dalam kendaraan lapis baja yang penyok akibat lemparan batu yang diparkir di sisi jalan.

Militer Cile mengambil alih keamanan di Santiago, sebuah kota berpenduduk 6 juta orang yang kini berada dalam keadaan darurat dengan jam malam.

Protes yang dipicu kenaikan tarif angkutan umum itu memanas menjadi kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan yang menewaskan sedikitnya 17 orang, melukai ratusan lainnya. Lebih dari 7.000 ditangkap dan menyebabkan kerugian bisnis lebih dari 1,4 miliar dolar.

Presiden dua periode Cile, Sebastian Pinera, mengalahkan oposisi dalam pemilihan umum terbaru 2017, memberikan koalisi yang berkuasa kekalahan terbesar sejak akhir kediktatoran Augusto Pinochet pada 1990.

Tetapi sekarang banyak protes dan coretan protes yang tergambar di gedung-gedung di sekitar kota, menuntut dirinya lengser.

Pada Kamis lalu, Pinera mengatakan sudah mendengar tuntutan warga Cile. Dia sudah mengirimkan rancangan undang-undang yang membatalkan kenaikan tarif listrik dan menyerukan reformasi untuk menjamin upah minimum 480 dolar sebulan dan memperkenalkan asuransi kesehatan negara.

Pada Jumat, Pinera memberikan sentuhan akhir pada rancangan undang-undang untuk menaikkan pensiun minimum sebesar 20 persen.

"Kita harus menyetujui proyek-proyek ini dengan urgensi yang diminta warga Cile," kata Pinera.

Kerusuhan Cile adalah yang terbaru dalam serangkaian protes di Amerika Selatan dan di seluruh dunia -dari Beirut ke Barcelona- masing-masing dengan pemicu lokal tetapi juga berbagi kemarahan yang mendasari perbedaan sosial dan elit penguasa.


Editor : Nathania Riris Michico