2 Perempuan Lesbian Dihukum Cambuk, Pemerintah Malaysia Dikecam

Nathania Riris Michico ยท Senin, 03 September 2018 - 14:16 WIB
2 Perempuan Lesbian Dihukum Cambuk, Pemerintah Malaysia Dikecam

Ilustrasi hukuman cambuk di Aceh (Foto: AFP)

KUALA TRENGGANU, iNews.id - Dua perempuan lesbian Malaysia dicambuk karena melakukan hubungan seksual, Senin (3/9/2018). Mereka dicambuk karena dianggap melanggar hukum Islam.

Hukuman cambuk menuai kecaman luas. Sebab, itu merupakan pertama kalinya perempuan di Malaysia dicambuk karena melanggar peraturan syariah yang melarang hubungan sesama jenis.

Malaysia diketahui menjalankan sistem hukum jalur ganda, di mana pengadilan Islam dapat menangani urusan agama dan keluarga bagi warga Muslim, serta kasus-kasus seperti perzinahan.

Pasangan lesbian berusia 22 dan 32 tahun itu ditangkap pada April oleh petugas penegak hukum Islam setelah ditemukan di sebuah mobil di lapangan umum di Terengganu, salah satu wilayah paling konservatif di Malaysia.

Pasangan yang identitasnya belum terungkap tersebut mengaku bersalah karena melanggar hukum Islam. Mereka divonis cambukan masing-masing enam kali dan denda sebesar 3.300 ringgit.

Eksekusi dilaksanakan di Pengadilan Tinggi Syariah di Kuala Terengganu, ibu kota negara bagian Terengganu.

Sebelum hukuman cambuk dilakukan, Kepala Amnesty International Malaysia, Gwen Lee, mengecam hukuman itu sebagai tindakan kejam dan tidak adil.

"Malaysia harus mengakhiri penggunaan hukuman cambuk dan mencabut undang-undang yang memaksakan hukuman yang menyiksa ini sepenuhnya," kata Lee, seperti dilaporkan AFP.

Hukuman itu juga memicu rentetan kritik dari berbagai organisasi hak asasi manusia. Organisasi Bantuan Hak Perempuan menyatakan, "Kami marah dan terkejut oleh pelanggaran berat hak asasi manusia ini."

"Tindakan seksual antara dua orang dewasa yang sama-sama menyetujui tidak boleh dikriminalisasi, apalagi dihukum dengan cambukan."

"Hukuman cambuk justru hanya akan meningkatkan kekebalan pelaku atas tindakan kekerasan yang ditujukan pada orang-orang gay," ujar pegiat kelompok hak asasi transgender Justice for Sisters, Thilaga Sulathireh.

Kekhawatiran meningkat dalam beberapa pekan terakhir terkait iklim yang memburuk bagi komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di negara mayoritas Muslim tersebut.

Sebelumnya, Pengadilan syariah di Malaysia menunda pelaksanaan hukuman cambuk terhadap dua perempuan lesbian tersebut. Eksekusi seharusnya dilakukan Selasa (28/8/2018), namun ditunda menjadi hari ini.

Hubungan seksual sesama jenis merupakan tindakan ilegal bagi Muslim di Malaysia di bawah hukum Islam, namun tidak untuk minoritas etnis Tionghoa dan India.

Sodomi juga merupakan kejahatan bagi semua kelompok etnis di bawah undang-undang yang berasal dari kekuasaan kolonial Inggris, meskipun undang-undang itu jarang diberlakukan.


Editor : Nathania Riris Michico