2 Warganya Dianiaya Demonstran Hong Kong di Bandara, China: Seperti Aksi Teroris

Anton Suhartono ยท Rabu, 14 Agustus 2019 - 13:23 WIB
2 Warganya Dianiaya Demonstran Hong Kong di Bandara, China: Seperti Aksi Teroris

Warga China dibawa menggunakan ambulans setelah dianiaya demonstran di bandara Hong Kong (Foto: AFP)

BEIJING, iNews.id - Pria Pemerintah China mengecam aksi pendudukan bandara di Hong Kong selama 2 hari yang menyebabkan pembatalan ratusan penerbangan. Pejabat China juga menyebut pemukulan terhadap dua pria di bandara oleh demonstran merupakan tindakan seperti teroris.

Ribuan demonstran memblokade dua terminal keberangkatan salah satu bandara tersibuk di Asia itu pada Senin dan Selasa (13/8/2019), meningkatkan ekskalasi sejak demonstrasi menentang RUU ekstradisi itu digelar 10 pekan lalu.

Massa mengepung, mengikat, dan memukul seorang pria berompi kuning yang ternyata jurnalis surat kabar Global Times, media yang dikelola Pemerintah China.

Satu orang lagi yang dianiaya adalah laki-laki warga Shenzhen yang sedang berkunjung ke Hongkong. Pria yang kemudian teridentifikasi sebagai Xu itu sempat ditahan sekitar 2 jam sebelum dibawa menggunakan ambulans.

Demonstran menuduh pria itu sebagai agen intelijen China yang menyusup ke tengah massa prodemokrasi.

"Kami mengecam keras tindakan seperti teroris ini," kata Xu Luying, juru bicara Kantor Urusan Hong Kong dan Makau, dikutip dari AFP, Rabu (14/8/2019).

"Sangat merusak citra Hong Kong di kancah internasional, dan secara serius melukai perasaan rekan senegaranya di China. Kekerasan yang sangat keji harus dihukum berat sesuai aturan," kata Xu, menambahkan.

China, lanjut dia, mendukung kepolisian dan kejaksaan Hong Kong untuk menegakkan hukum dan menyeret para pelaku ke meja hijau sesegera mungkin.

Aksi unjuk rasa yang membawa Hong Kong ke dalam krisis terparah sejak diserahkan dari Inggris ke China pada 1997 itu disulut oleh rencana pemerintah untuk mengesahkan RUU ekstradisi. Melalui UU itu, penjahat Hong Kong nantinya bisa diadili di China.

Massa menganggap RUU ini merupakan upaya China untuk meningkatkan pengaruhnya di Hong Kong dan mengubah kebebasan berdemokrasi menjadi kekangan di bawah aturan Beijing.


Editor : Anton Suhartono