5 Fakta Penembakan Masjid Selandia Baru, Pelaku Serukan Bunuh Erdogan

Anton Suhartono ยท Jumat, 15 Maret 2019 - 19:39 WIB
5 Fakta Penembakan Masjid Selandia Baru, Pelaku Serukan Bunuh Erdogan

Brenton Tarrant (Foto: Facebook)

JAKARTA, iNews.id - Penembakan brital di dua masjid Christchurch, Selandia Baru, sudah direncanakan sebelumnya oleh pelaku yang merupakan warga Australia, Brenton Tarrant.

Sejauh ini 49 orang tewas dan lebih dari 20 lainnya mengalami luka dalam penembakan di dua masjid, yakni An Nur dan satu lagi di Linwood Avenue.

Para korban kebanyakan merupakan imigran. Tarrant, yang disebut Perdana Menteri Australia Scott Morrison sebagai ekstrimis sayap kanan, sengaja mengincar lokasi itu karena sesuai dengan karakteristik yang diinginkan.

Berikut 5 fakta penembakan masjid di Selandia Baru:

1. Terjadi saat Khotbah

Penembakan terjadi sekitar pukul 13.30 waktu setempat saat khatib akan naik mimbar. Anggota dewan Masjid An Nur Farid Ahmed, dalam wawancara dengan BBC, mengatakan, penembakan brutal itu terjadi saat khatib menyampaikan khotbah.

"Secara tiba-tiba penembakan terjadi. Dimulai dari ruang utama, jadi saya tidak melihat siapa yang menembak, tapi saya melihat orang-orang berlarian keluar dari masjid. Saya juga lihat orang berdarah dan tertatih-tatih," katanya.

2. Polisi Selandia Baru Sempat Minta Muslim Tak ke Masjid

Awalnya polisi mengira hanya satu masjid yang menjadi sasaran, tapi ternyata ada dua. Apalagi, Tarrant beraksi dengan licin. Kondisi ini membuat suasana mencekam. Petugas sempat berpikir ada pelaku lain yang juga melakukan serangan serupa di masjid lain.

Untuk itulan Komisioner Polisi Mike Bush sempat memperingatkan umat Islam untuk tidak ke masjid dulu sampai situasi benar-benar dikendalikan.

Pascapenembakan, pelaku sempat berkeliaran sehingga memicu kekhawatiran ada korban dari kalangan penduduk sekitar. Seluruh sekolah di Chrischurch pun di lock down atau ditutup total.

3. Pelaku Siarkan Langsung Penembakan di Medsos

Seperti diketahui, Tarrant melakukan pembantaian brutal ini secara terang-terangan, bahkan dia menampilkan wajahnya dalam rekaman sebelum penembakan berlangsung. Video yang beredar di media sosial terdiri dari potongan-potongan adegan.

Berdasarkan sebagian cuplikan video, Tarrant menembak secara membabi buta di dalam ruang masjid. Bahkan korban yang sudah tak berdaya masih ditembak.

Tak lama setelah peristiwa, rekaman video itu beredar luas, memaksa otoritas Selandia Baru meminta warga untuk tidak ikut menyebarkannya.

4. Pelaku Ungkap Alasan Membantai Muslim

Sebelum beraaksi, di akun Twitter-nya, Tarrant menautkan link sebuah artikel manifesto yang menjadi dasar atau alasannya menyerang umat Islam. Pria yang diketahui berasal dari Kota Graffon, New South Wales, itu memberi judul artikelnya ‘The Great Replacement’.

Dalam artikel setebal 74 halaman itu, dia mengunggah beberapa foto magasin senapan mesin.

Dokumen dimulai dengan kutipan puisi dari Dylan Thomas berisi, "Do not go gentle into that good night, and then moves onto a rant about white genocide"

Disebutkan pula bahwa dia menyerang untuk membuat suasana ketakutan dan menghasut kekerasan terhadap muslim.

Tak hanya itu, Tarrant juga menyerukan membunuh tiga tokoh Eropa yang disebutnya sebagai musuh. Ketiga orang itu adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Wali Kota London Sadiq Khan, dan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Erdogan dianggap sebagai musuh pemimpin umat muslim terbesar di Eropa. Sadiq Khan, imigran asal Pakistan, dinilai sebagai simbol pergantian etnis dan invasi muslim di Eropa. Sedangkan Merkel disebutnya sebagai pembawa kerusakan karena berusaha membersihkan Eropa dari ras aslinya.

Manifesto Tarrant juga kental dengan ideologi supremasi kulit putih dan dipengaruhi oleh para tokohnya seperti Andres Breivik, pelaku pembantaian 77 orang pada 2011.

5. 2 WNI jadi Korban Penembakan

Dua warga Indonesia mengalami luka dalam penembakan di Masjid An Nur. Berdasarkan keterangan Kemlu RI, keduanya merupakan pasangan ayah dan anak. Mereka dirawat di RS Umum Christchurch. Sang ayah, Zulfimansyah, dirawat di ICU karena terkena tembakan di beberapa bagian tubuhnya.

Sementara anak Zulfirmansyah terkena tembakan di kaki dan kondisi kejiwaannya terguncang.

Mereka bagian dari enam WNI yang berada di masjid saat penembakan terjadi. Namun tiga orang berhasil menyelamatkan diri dan tiga lainnya sempat tak diketahui nasibnya.


Editor : Anton Suhartono