65 Warga Rohingya Ditemukan di Atas Kapal Karam di Thailand

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 12 Juni 2019 - 14:44 WIB
65 Warga Rohingya Ditemukan di Atas Kapal Karam di Thailand

Para warga Rohingya yang berada di kapal yang karam. (FOTO: AFP)

BANGKOK, iNews.id - Sebanyak 65 Muslim Rohingya ditemukan di sebuah kapal yang karam di lepas pantai Thailand. Saat ini para pejabat Angkatan Laut sedang menyelidiki apakah mereka terlibat perdangan manusia.

Kapal itu ditemukan pada Selasa (11/6) pagi di Taman Nasional Laut Tarutao di Thailand selatan, sekitar 400 kilometer dari perbatasan Myanmar.

Sekitar 740.000 Rohingya melarikan diri dari Myanmar sejak pembantaian militer pada 2017 terhadap minoritas yang tidak memiliki kewarganegaraan di negara mayoritas Buddha itu.

Sebagian besar melarikan diri ke kamp-kamp pengungsi di Bangladesh, sementara yang lain menjadi korban perdagangan manusia demi mencari kehidupan yang lebih baik di Malaysia atau Thailand.

Seorang juru bicara Angkatan Laut Thailand mengatakan, ada 31 perempuan dan lima anak Rohingya di kapal yang karam itu.

Seorang lelaki Thailand dan lima warga negara Burma juga termasuk dalam kelompok itu. Mereka mengaku sedang memancing di daerah itu dan tidak memiliki hubungan dengan Rohingya.

"Keenam orang itu ditahan untuk diinterogasi karena perilaku mereka yang mencurigakan," kata juru bicara Angkatan Laut Thailand, Khan Deeubol, seperti dilaporkan AFP, Rabu (12/6/2019).

Seorang pejabat provinsi mengatakan kelompok itu awalnya diselidiki karena masuk secara ilegal, namun penyelidikan meluas.

"Pihak berwenang tidak mengesampingkan masalah lain seperti perdagangan manusia," kata sumber dari Komando Keamanan Internal (ISOC) di Provinsi Satun.

Foto-foto dari Angkatan Laut Thailand menunjukkan kelompok itu berada di pantai, beberapa memakan nasi di dekat kapal yang terdampar.

Pihak berwenang Bangladesh mencegat beberapa tersangka pelaku perdagangan manusia yang ingin mengangkut para pengungsi dari kamp-kamp kumuh di Cox's Bazaar, tempat hampir satu juta orang Rohingya tinggal. Hampir semua pengungsi itu menolak kembali ke Myanmar karena takut akan keselamatan dan hak-hak mereka.

Myanmar menyatakan pembantaian 2017 bertujuan membasmi para pemberontak yang menyerang pos-pos militer.

Mereka menandatangani perjanjian repatriasi dengan Bangladesh untuk mengembalikan pengungsi Rohingya, tetapi sejauh ini tidak ada yang mau secara sukarela kembali.


Editor : Nathania Riris Michico