7 ABK WNI Terkatung-katung 2 Pekan di Perairan China

Antara ยท Rabu, 01 Mei 2019 - 14:50 WIB
7 ABK WNI Terkatung-katung 2 Pekan di Perairan China

Tujuh ABK WNI terkatung-katung di perairan Changhai, China (Ilustrasi, Foto: AFP)

BEIJING, iNews.id - Tujuh kru kapal berkewarganegaraan Indonesia terkatung-katung sejak 2 pekan terakhir di perairan Shanghai, China. Penyebabnya, kapal mereka, Jixiang, ditahan oleh Badan Keamanan Laut (MSA).

Kapten Waryanto bin Riswad mengatakan, kapalnya ditahan dengan alasan tak punya izin masuk ke perairan Shanghai.

"Kapal kami ditahan karena masuk tanpa izin. Kemarin sudah diproses oleh Imigrasi dan MSA Shanghai. Tapi bos lepas tangan dan tidak mau bertanggung jawab," kata Waryanto, Rabu (1/5/2019).

Dia menjelaskan, kapal milik perusahaan Taiwan berbendera Sierra Leone yang dibawanya dalam perjalanan dari Taipei dan Taichung, menuju Hong Kong, untuk mengantar gula.

"Namun, kami tidak tahu kenapa harus putar haluannya ke Shanghai. Akhirnya kapal kami ditahan pada 17 April," kata pelaut asal Jakarta itu.

Setelah diproses dan dikenai sanksi denda, perusahaan justru memerintahkan Waryanto menjalankan kapal, yang saat ini posisinya di dekat pantai Shanghai. Namun dia menolak karena melanggar hukum.

"Kami tidak mau karena itu sudah melanggar peraturan. Orang-orang kantor (pemilik kapal) tetap meminta kami memberangkatkan kapal tanpa surat-surat resmi. Saya menolak, takutnya masalah kami makin bertambah," ujar Waryanto.

Enam WNI lainnya adalah Oskar Raya Bitan (31), Zainal Haris (41), Endrayanto (30), Setiawan Zem Rente (25), Azzumar Sajidin (32), dan Sahbri (27). Mereka dipekerjakan di Taiwan sejak 7 Januari 2019 melalui sebuah agen yang beralamat di Koja, Jakarta Utara.

Adapun Waryanto diberangkatkan ke Taiwan oleh agen asal Batam.

"Untuk berangkat ke Taiwan saya juga harus membayar uang Rp8 juta. Saya sudah lapor agen, malah disuruh ikuti saja apa maunya orang kantor," kata Waryanto.

Pihak kantor mengancam tidak akan membayar gaji bulan ini dan menahan ijazah jika para ABK tidak menuruti perintah menjalankan kapal, yang saat ini sedang terjerat kasus hukum di wilayah daratan China itu.

Jika melihat letak geografisnya, Hong Kong berada di barat daya Taiwan, sedangkan Shanghai di utara.

Waryanto sempat ragu saat diminta memutar haluan ke Shanghai, yang berada di utara, padahal tugasnya memimpin perjalanan menuju Hong Kong.

Sementara itu Konsulat Jenderal RI di Shanghai masih mendalami kasus ini.

"Kami masih cek keberadaan mereka," kata Wandi Adriano KJRI Shanghai.


Editor : Anton Suhartono