7 Warga China Diadili di Zimbabwe karena Simpan Potongan Cula Badak

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 04 Januari 2019 - 12:36 WIB
7 Warga China Diadili di Zimbabwe karena Simpan Potongan Cula Badak

Potongan cula badak yang diamankan di Zimbabwe. (Foto: doc. AFP)

HARARE, iNews.id - Tujuh warga negara China muncul di pengadilan Zimbabwe pada Kamis (3/1/2019), setelah tertangkap memiliki potongan-potongan cula badak bernilai hampir satu juta dolar.

Mereka menghadapi tuduhan melanggar hukum margasatwa negara itu.

Zeng Dengui (35), Peicon Jang (35), Chen Zhiangfu (30), Qui Jinchang (29), Yu Xian (25), Yong Zhu (25), dan Liu Cheng (23) ditangkap dua hari sebelum Natal setelah polisi menggerebek rumah mereka setelah mendapat laporan.

Polisi menemukan potongan-potongan cula badak yang disembunyikan di kasur, kantong plastik, dan di dalam kotak di sebuah rumah di salah satu pinggiran kota.

Tujuh orang yang semuanya menganggur, muncul dengan mengenakan pakaian penjara di pengadilan di kota resor Air Terjun Victoria.

Persidangan mereka yang dijadwalkan Kamis kemarin ditunda hingga 9 Januari setelah jaksa mengatakan mereka belum siap.

Jaksa penuntut Bheki Tshabalala mengatakan, polisi menuntut tuduhan lain yakni pencucian uang terkait kasus tersebut, serta tuduhan pencurian kendaraan bermotor.

Di bawah undang-undang taman dan margasatwa Zimbabwe, adalah ilegal untuk menyimpan, memiliki, menjual atau membuang produk dari tubuh hewan yang dilindungi.

Dalam tuntutan disebutkan, potongan-potongan cula badak itu memiliki berat 20,98 kilogram dan bernilai 823.500 Euro atau 938.700 dolar.

Cula badak sangat didambakan di beberapa negara Asia seperti China dan Vietnam, di mana bisa diperoleh hingga 60.000 dolar per kilogramnya, untuk dijadikan obat.

Afrika Selatan, yang merupakan rumah bagi sekitar 80 persen populasi badak dunia, kehilangan lebih dari 7.100 hewan selama dekade terakhir.

Pada 2016, otoritas satwa liar di Zimbabwe menyatakan mereka mulai membasmi 700 badak dewasa di negara itu untuk menghentikan perburuan liar yang merajalela.


Editor : Nathania Riris Michico