Ancam Trump soal Kesepakatan Nuklir, Presiden Iran: AS Akan Menyesal

Nathania Riris Michico ยท Senin, 07 Mei 2018 - 11:43:00 WIB
Ancam Trump soal Kesepakatan Nuklir, Presiden Iran: AS Akan Menyesal
Presiden Iran Hassan Rouhani. (Foto: AFP)

TEHERAN, iNews.id - Presiden Iran Hassan Rouhani mengancam Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang ingin menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015. Rouhanni memperingatkan AS akan menyesal lebih dari sebelumnya jika menarik diri.

"Jika Amerika Serikat meninggalkan kesepakatan nuklir, Anda akan segera melihat bahwa mereka (AS) akan menyesalinya, tidak seperti yang pernah ada dalam sejarah. Trump harus tahu rakyat kita bersatu, rezim Zionis (Israel) harus tahu bahwa rakyat kita bersatu," kata Rouhani, berbicara kepada rakyatnya yang disiarkan di stasiun televisi, seperti dilaporkan AFP, Senin (7/5/2018).

"Saat ini semua faksi politik Iran, apakah mereka dari kanan, kiri, konservatif, reformis, atau moderat bersatu," ujar dia.

Rouhani juga menegaskan penolakan untuk membatasi pengembangan rudal non-nuklir. Iran, kata dia, akan membangun sebanyak mungkin rudal dan senjata yang diperlukan sebagai pertahanan.

"Kami ingin komitmen, tetapi kami mengatakan kepada seluruh dunia, tidak akan bernegosiasi dengan siapa pun tentang senjata dan pertahanan," ujar Rouhani.

Pada kesempatan itu, Rouhani menegaskan juga siap terbuka untuk membahas peran Iran di kawasan dan tidak akan menghentikan perjuangan melawan terorisme.

"Kami ingin mengatakan kepada dunia, wilayah kami aman. Tetapi kami tidak akan mengizinkan Anda membuat Daesh baru," kata dia, merujuk pada kelompok ISIS.

Iran selalu membantah memperbanyak senjata nuklir, dan menyebut program rudalnya hanya untuk tujuan pertahanan.

Namun Rouhani tidak menjelaskan bagaimana sikap Iran jika AS jadi menarik diri dari kesepakatan 2015.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan menarik diri dari perjanjian. Dia memiliki waktu hingga 12 Mei untuk memutuskan apakah akan meninggalkan kesepakatan atau tidak.

Kesepakatan nuklir itu diberlakukan pada 2015 antara Iran dengan Inggris, China, Perancis, Jerman, Rusia, dan AS. Perjanjian itu dipimpin oleh Presiden Barack Obama.

Di bawah pakta, sanksi untuk Iran diringankan sebagai imbalan atas komitmen menghentikan pengembangan bom nuklir. Namun Iran mengklaim hal itu tak menuai hasil meski pihaknya memenuhi kesepakatan.

Editor : Nathania Riris Michico