AS Uji Coba Rudal Balistik Lagi, Menjelajah 500 Km

Anton Suhartono ยท Jumat, 13 Desember 2019 - 11:16 WIB
AS Uji Coba Rudal Balistik Lagi, Menjelajah 500 Km

AS kembali meguji coba rudal balistik setelah keluar dari perjanjian kontrol senjata INF dengan Rusia (Foto: AFP)

WASHINGTON, iNews.id - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) menguji coba rudal balistik yang diluncurkan dari darat, Kamis (12/12/2019).

Ini merupakan pengujian rudal kedua kalinya oleh AS sejak negara itu memutuskan keluar dari perjanjian pengembangan dan produksi rudal jarak menengah (INF) dengan Rusia pada Agustus lalu.

Dalam pernyataan, Pentagon mengungkap, uji coba dilakukan di Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg, California, dengan menembakkan rudal sejauh lebih dari 500 km.

"Data yang dikumpulkan dan studi yang diperoleh dari tes ini berguna untuk pengembangan kemampuan (rudal) jarak menengah di masa depan," bunyi pernyataan, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (13/12/2019).

Pada Agustus, Pentagon menguji coba rudal jelajah yang diluncurkan dari darat dengan jangkauan lebih dari 500 km.

Sesuai perjanjian INF yang diteken pada 1987 antara Presiden Ronald Reagan dengan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev, kedua negara melarang pengembangan dan produksi rudal darat dengan jangkauan antara 500 sampai 5.500 kilometer.

Pemerintahan Donald Trump menarik AS keluar dengan alasan Rusia melanggar lebih dulu perjanjian ini, Namun Rusia membantah dan menuduh balik bahwa AS lah yang melanggar pakta tersebut.

Para ahli percaya runtuhnya perjanjian ini dapat merusak program pengontrolan senjata dan sebaliknya menjadi kompetisi untuk mengembangkan persenjataan baru, termasuk nuklir.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pekan ini berkunjung ke Washington dan bertemu dengan Trump dan mitranya Mike Pompeo.

Dalam pertemuan itu, Lavrov menawarkan kepada AS untuk memperpanjang perjanjian pengawasan senjata baru AS-Rusia 2011. Namun Trump dan Pompeo menekankan bahwa perjanjian ini harus melibatkan negara lain, seperti China. Pasalnya, saat ini China juga mengembangkan rudal dengan kemampuan yang sama.

Perjanjian pengawasan senjata tahun 2011 mengharuskan kedua pihak untuk memangkas hulu ledak nuklir strategis tidak lebih dari 1.550 dan akan berakhir pada Februari 2021, namun masih dapat diperpanjang hingga 5 tahun.

Editor : Anton Suhartono