Bersih-Bersih di Gunung Everest Kumpulkan 10 Ton Sampah dan Mayat

Anton Suhartono ยท Senin, 29 April 2019 - 13:36 WIB
Bersih-Bersih di Gunung Everest Kumpulkan 10 Ton Sampah dan Mayat

Aksi bersih-bersih Gunung Everest yang dilakukan sherpa pada 2010 (Foto: AFP)

KATHMANDU, iNews.id - Pemerintah Nepal menggelar aksi bersih-bersih di Gunung Everest. Diperkirakan tim akan membawa turun hampir 10 ton sampah dari Puncak melalui beberapa jaur pendakian.

Setiap tahun ratusan pendaki, sherpa selaku penunjuk jalan, serta porter membuang berton-ton sampah organik dan nonorganik, seperti tabung oksigen, limbah dapur, botol bir, bahkan tinja.

Aksi bernama Everest Cleaning Campaign ini akan berlangsung selama 45 hari, dipimpin oleh pemerintah distrik Khumbu Pasanglhamu. Tim sudah memulai pembersihan gunung tertinggi di dunia itu sejak 14 April 2019.

Untuk mendukung aksi lingkungan ini, berbagai perusahaan menjanjikan bantuan keuangan, termasuk bank dan perusahaan multinasional, serta organisasi nirlaba.

Dirjen Departemen Pariwisata Nepal Danduraj Ghimire mengatakan, sebanyak 5 ton sampah akan dibawa dari Base Camp Everest, 2 ton dari South Col, serta 3 ton dari Kamp 1 dan 2. Itu belum termasuk beberapa jenazah para pendaki yang tewas.

"Tujuan kami adalah mengekstrak sebanyak mungkin sampah dari Everest untuk mengembalikan kondisi gunung. Everest bukan hanya mahkota dunia, tapi kebanggaan kita," kata Ghimir, dikutip dari Kathmandu Post, Senin (29/4/2019).

Gagasan kerja bakti massal ini lahir setelah penduduk Khumbu, para ahli konservasi, dan aktivis lingkungan mengeluhkan soal jumlah sampah di Everest yang terus bertambah. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa membahayakan karena dapat menimbulkan masalah lingkungan serius serta kesehatan.

Sebenarnya ada upaya di masa lalu untuk membersihkan Everest, termasuk penerapan aturan pada 2014 di mana setiap pendaki wajib membawa turun 8 kg sampah. Jumlah itu merupakan perkiraan sampah yang dihasilkan setiap pendaki.

"Jika saja pendaki membawa kembali sampah sendiri, itu akan sangat membantu menjaga kebersihan Everest," kata Ghimire.

Sayangnya, aturan ini tak ditegakkan sepenuhnya, sehingga banyak terjadi pelanggaran.

Selain sampah, kampanye ini juga mengevakuasi jenazah pendaki yang tewas di Everest. Sejauh ini ada empat jenazah pendaki yang ditemukan dan akan dibawa turun. Setiap tahun ada saja pendaki yang tewas. Jasad mereka ditinggal karena terlalu berisiko bagi pendaki lain yang menurunkannya. Ini menyebabkan Everest menjadi kuburan massal.

Laporan BBC baru-baru ini mengungkap, jasad yang terkubur es dan salju dalam waktu lama muncul seiring mencairnya gletser.

Para pejabat Nepal mengatakan, jasad-jasad itu akan diturunkan. Mereka yang tak bisa diidentifikasi akan dikremasi sesuai aturan setempat.

"Segala sesuatu yang ada di Everest, kecuali batu dan salju, akan diturunkan. Tujuannya untuk mengirim pesan bahwa kita harus menjaga gunung ini bebas polusi," kata Sekretaris Asosiasi Pendaki Gunung Nepal, Tika Ram Gurung.

Sebuah tim beranggotakan 12 orang, termasuk personel Angkatan Darat Nepal, dikerahkan untuk kampanye pembersihan. Sebanyak delapan orang akan berada di Kamp 2, tiga lainnya secara bergiliran bergerak menuju Kamp 4 di South Col untuk mengumpulkan sampah. Tim akan menghabiskan 5 hari di South Col.

Sejak pertengahan April, aksi bersih-bersih ini telah mengumpulkan hampir 3 ton sampah, sebanyak 2 ton di antarnya dibuang ke pembuangan di Okhaldhunga dan sisanya diserahkan ke perusahaan sosial Blue Waste to Value, sebuah perusahaan daur ulang.

Untuk mendukung aksi ini, tiga helikopter militer dikerahkan. Dua unit digunakan untuk menurunkan sampah dan satu untuk operasi penyelamatan.

Aksi bersih-bersih akan berakhir pada 29 Mei, bersamaan dengan peringatan penakulkan Everest oleh Edmund Hillary dan Tenzing Norgay pada 1953.

Sebagian sampah yang terkumpul akan "dipamerkan" di Namche, sebelum dibawa ke Kathmandu. Sekali lagi, sampah-sampah itu akan dipamerkan pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni, kemudian dikirim untuk didaur ulang.


Editor : Anton Suhartono