Bugar di Usia 94 Tahun, Ini Resep Mahathir Mohamad Bertahan saat Pandemi Corona

Ahmad Islamy Jamil ยท Jumat, 22 Mei 2020 - 15:17 WIB
Bugar di Usia 94 Tahun, Ini Resep Mahathir Mohamad Bertahan saat Pandemi Corona

Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad. (Foto: AFP)

PUTRAJAYA, iNews.id – Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, yang kini berumur 94 tahun, telah melalui masa karantina wilayah alias lockdown yang diberlakukan negaranya dalam menghadapi wabah virus corona (Covid-19). Pria yang sempat dinobatkan sebagai pemimpin tertua di dunia sampai memutuskan mundur pada awal 2020 itu, tetap bugar dengan melakukan treadmill dan berolahraga sepeda.

Dia kini juga sudah terbiasa menggunakan platform video seperti Zoom untuk berkomunikasi, meski politikus senior itu juga meminta bantuan anggota keluarganya yang lebih muda untuk menggunakan aplikasi itu. Dia mengaku sangat awam dengan teknologi masa kini.

Mahathir Mohamad menjalankan tugas pertamanya sebagai perdana menteri Malaysia sejak 1981 hingga 2003. Dua tahun lalu dia, kembali berkuasa dengan merebut pucuk pemerintahan Malaysia di usia 92 tahun.

Dalam sebuah wawancara dengan AFP melalui konferensi video dari kantornya di Putrajaya, pusat pemerintahan Malaysia, Mahathir mengungkapkan bagaimana pandemi Covid-19 berdampak pada negara dan ada pelajaran yang bisa dipetik dari krisis itu.

Berikut petikan wawancaranya:

Apa saja yang menjadi kegiatan favorit Anda untuk melalui pandemi (Covid-19), dan mengapa Anda memilih melakukan itu?

“Saya melakukan treadmill dan bersepeda. Suatu hari saya melakukan treadmill, di hari lainnya saya bersepeda. Saya bertemu orang-orang jika mereka ingin datang dan menemui saya, asalkan mereka mengikuti aturan. Mereka harus memakai masker; mereka harus mencuci tangan, dan; mereka harus menjaga jarak dari saya.

Saya juga menggunakan platform online seperti Zoom untuk tetap berhubungan dengan orang-orang. Tapi saya tidak terlalu paham, saya tidak mengerti bagaimana menggunakannya, karena saya sangat primitif dalam hal itu.

Tentu saja, anak-anak dan cucu-cucu saya, mereka sangat berpengalaman dalam hal ini. (Jika) saya punya masalah, saya bertanya pada mereka.

Apa pelajaran utama yang Anda dapatkan dari krisis ini?

“Kita harus lebih siap dalam menghadapi virus ini. Kita harus belajar bagaimana menghadapinya, tidak hanya dalam upaya memproduksi vaksin, tetapi juga dalam tindakan yang harus kita ambil, seperti yang kita lakukan sekarang, seperti penguncian (lockdown).

Situasi ini akan memakan waktu lama. Bahkan jika Anda menemukan vaksin sekarang pun, butuh sekitar enam bulan untuk mengujinya. Bahkan ketika vaksin sudah siap pun, kita harus memproduksi dalam jumlah memadai bagi mereka yang membutuhkannya. Ini akan memakan waktu lama. (Catatan: sebelum terjun ke dunia politik, Mahathir adalah seorang dokter)

Negara-negara harus berhenti membelanjakan triliunan dolar untuk mengembangkan senjata. Jika triliunan dolar dihabiskan untuk penelitian dan obat-obatan, kita akan berada di dunia yang jauh lebih aman.”

Bagaimana pandemi ini mengubah pandangan Anda atau dunia di sekitar Anda?

“Selama ini, ada sedikit ego dan kesombongan (di kalangan Barat). ‘Karena kami negara maju, kami tidak akan menderita seperti negara-negara miskin yang standar kesehatan mereka sangat buruk,’ atau ungkapan semacamnya.

Tetapi pada saat ini, negara-negara miskin justru lebih baik daripada negara-negara kaya. Mereka (Barat) berpikir bahwa ini akan memengaruhi negara-negara berkembang atau negara-negara terbelakang. Tetapi sekarang mereka mendapati bahwa epidemi itu justru berpusat di sekitar negara-negara maju.”

Bagaimana dampak wabah virus ini terhadap Malaysia?

“Bahkan ketika kita (Malaysia) berurusan dengan pandemi, kita masih harus membayar utang kita. Kita tidak dapat menghindarinya, kita meminjam miliaran dolar.

Kita memiliki lebih sedikit uang, tetapi ini adalah saat kita harus mengeluarkan lebih banyak uang, untuk membantu orang-orang yang tidak beruntung. Ada orang-orang yang tidak mampu memperoleh uang satu sen pun selama pandemi ini.”

Editor : Ahmad Islamy Jamil