China Dilaporkan Akan Mengganti Pemimpin Hong Kong Carrie Lam

Anton Suhartono ยท Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:59 WIB
China Dilaporkan Akan Mengganti Pemimpin Hong Kong Carrie Lam

Carrie Lam (Foto: AFP)

LONDON, iNews.id - Gejolak politik di Hong Kong belum menunjukkan reda. Meskipun RUU ekstradisi yang menjadi pemicu aksi demonstrasi jutaan warga sejak Juni lalu telah dicabut, ternyata belum mampu meredakan ketegangan.

Pasalnya tuntutan massa telanjur berkembang, tak lagi sebatas RUU yang memungkinkan para penjahat di Hong Kong diadili di China, namun juga menyinggung hak demokrasi warga Hong Kong yakni pemilihan pemimpin secara langsung. Selama ini pemimpin di wilayah semiotonomi itu ditunjuk langsung oleh China.

Terkait dengan gejolak ini, Pemerintah China dilaporkan sedang menyusun rencana untuk mengganti Carrie Lam dengan pemimpin Hong Kong sementara.

Menurut laporan Financial Times (FT), mengutip sumber di Beijing, pejabat China ingin situasi di Hong Kong stabil sebelum membuat keputusan final. Mereka tidak ingin menyerah pada kekerasan.

Sebagai pemimpin, Lam terkesan menjadi penangkal petir bagi China dalam menghadapi tuntutan warganya. Meski tetap menerapkan demokrasi di wilayah itu, China membatasi kebebasan warga Hong Kong di bawah prinsip 'satu negara, dua sistem'.

Sumber mengatakan kepada FT, sebagaimana dilaporkan kembali Reuters, Rabu (23/10/2019), para pejabat di China ingin situasi di Hong Kong stabil sebelum membuat keputusan akhir. Pasalnya mereka tidak ingin terlihat menyerah pada kekerasan yang sudah berlangsung sejak 5 bulan lalu.

Presiden China Xi Jinping dilaporkan akan menunjuk pengganti Lam pada Maret 2020 yang meneruskan sisa jabatan sampai 2022.

Kandidat yang disebut-sebut akan menggantikan Lam adalah Norman Chan, mantan kepala Otoritas Moneter Hong Kong dan Henry Tang yang menjabat sekretaris keuangan dan kepala sekretaris administrasi wilayah.

Lam pernah memberi sinyal akan mundur pada September menyusul memanasnya wilayah yang dipimpinnya. Dia menyebut telah menyebabkan malapetaka tak termaafkan sehingga memicu krisis politik terparah sejak Hong Kong diserahkan dari Inggris ke China pada 1997 silam.

Lam menyatakan siap mundur jika punya pilihan. Pernyataan itu terungkap dalam rekaman audio yang dirilis Reuters. Saat itu dia berbicara dengan para pengusaha Hong Kong.

Pada pertemuan tertutup itu, Lam mengaku memiliki ruang terbatas untuk menyelesaikan krisis.

"Jika saya punya pilihan, hal pertama adalah mundur, setelah membuat permintaan maaf yang mendalam," ujarnya, saat itu.

Editor : Anton Suhartono