China Panggil Dubes AS di Beijing Terkait Pengesahan UU HAM Hong Kong

Anton Suhartono ยท Selasa, 26 November 2019 - 17:15 WIB
China Panggil Dubes AS di Beijing Terkait Pengesahan UU HAM Hong Kong

China panggil Dubes AS di Beijing terkait pengesahan UU HAM dan demokrasi Hong Kong (Foto: AFP)

BEIJING, iNews.id - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China memanggil Duta Besar Amerika Serikat di Beijing Terry Branstad. China memprotes pengesahan UU HAM dan Demokrasi Hong Kong yang dilakukan Kongres AS beberapa waktu lalu. Disebutkan, pengesahan UU itu merupakan bentuk campur tangan AS terhadap masalah dalam negeri China.

Parlemen AS menyodorkan RUU kepada Gedung Putih pada Rabu pekan lalu setelah hampir semua anggota, yakni 417 berbanding 1, menyepakati UU HAM dan Demokrasi Hong Kong. RUU itu sebelumnya lebih dulu disahkan di Senat.

Presiden Donald Trump diperkirakan akan menandatangani UU tersebut serta satu UU lain yang masih terkait dengan Hong Kong. Penandatangan ini sepertinya akan tetap dilakukan meskipun kedua pihak dalam pembicaraan mencari solusi atas perang dagang.

Dalam keterangan di situs web, Wakil Menteri Luar Negeri Zheng Zeguang mendesak AS untuk memperbaiki kesalahan dan berhenti mencampuri urusan dalam negeri China terkait gejolak yang terjadi di Hong Kong.

Zheng menilai pengesahan UU HAM dan Demokrasi Hong Kong merupakan bentuk dari dorongan kekerasan serta pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan norma dasar hubungan internasional.

"China menyatakan sangat kesal dan menentangnya dengan tegas," ujarnya, dikutip dari Reuters, Selasa (26/11/2019).

UU ini lahir terkait unjuk rasa di Hong Kong yang sudah berlangsung sejak Juni 2019. Awalnya demonstrasi mengusung satu tuntutan yakni dicabutnya RUU ekstradisi, namun telanjur berkembang ke isu lain seperti kekerasan yang dilakukan polisi serta peberapan demokrasi lebih luas dalam pemilu pemimpin Hong Kong.

Unjuk rasa diwarnai kekerasan dari kedua pihak yang hingga kini menyebabkan setidaknya dua orang tewas, termasuk ratusan lainnya luka dari kedua pihak.

Editor : Anton Suhartono