Dalam Sehari, 1.150 Pasien Corona Meninggal Dunia di AS

Ahmad Islamy Jamil ยท Selasa, 07 April 2020 - 09:22 WIB
Dalam Sehari, 1.150 Pasien Corona Meninggal Dunia di AS

Kota New York memiliki pasien infeksi Covid-19 terbanyak di AS (ilustrasi). (Foto: Istimewa)

BALTIMORE, iNews.id – Dalam 24 jam terakhir, sedikitnya 1.150 orang meninggal dunia akibat wabah virus corona (Covid-19) di Amerika Serikat. Dengan begitu, kasus kematian karena virus asal Wuhan, China, itu di negeri Paman Sam kini menembus 10.000 jiwa.

Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Maryland, AS, pada Senin (6/4/2020) malam waktu setempat atau Selasa pagi WIB melaporkan, ada lebih dari 366.000 kasus infeksi virus corona di Amerika Serikat per hari ini. Dari jumlah itu, terdapat 30.000 kasus baru yang tercatat hanya dalam waktu 24 jam. Adapun dengan total kematian akibat Covid-19 di AS mencapai 10.783 kasus.

AS sejauh ini memiliki kasus infeksi virus corona terkonfirmasi yang terbanyak di dunia. Jumlah kematian yang dicatat sejak awal pandemi, selama beberapa hari terakhir meningkat setidaknya 1.000 per hari dan secara bertahap mendekati jumlah kematian di Italia (16.523 kasus) dan Spanyol (13.005 kasus).

Dalam dua pekan ini, jumlah kasus infeksi Covid-19 di AS meningkat hingga lebih dari 10 kali lipat, dan jumlah kematian akibat wabah itu meningkat hampir 26 kali lipat. Berdasarkan catatan Universitas Johns Hopkins, pasien corona di AS per 23 Maret lalu masih berjumlah 33.000 kasus, dengan 416 orang meninggal dunia.

Sementara, berdasarkan data yang dihimpun laman Worldometer, hingga pagi ini total penduduk yang terinfeksi Covid-19 di seluruh dunia mencapai 1.346.555 jiwa. Dari jumlah itu, 278.695 pasien dinyatakan sembuh. Sementara, total kematian akibat wabah itu sebanyak 74.693 jiwa.

Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan warga Amerika untuk bersiap menghadapi potensi kematian lebih besar selama pekan ini karena wabah virus corona. Trump menuturkan, Amerika Serikat akan memasuki masa yang dia sebut “sangat menghebohkan”.

“(Minggu depan) mungkin menjadi minggu yang paling sulit. Akan ada banyak kematian,” katanya di Gedung Putih, dikutip AFP, akhir pekan lalu.

Editor : Ahmad Islamy Jamil