Demi Kurangi Gangguan, SMA California AS Paksa Siswa Simpan Ponsel di Tempat Bermagnet Khusus

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 15 Januari 2020 - 18:25 WIB
Demi Kurangi Gangguan, SMA California AS Paksa Siswa Simpan Ponsel di Tempat Bermagnet Khusus

Para remaja lebih banyak menggunakan waktunya untuk melihat ponsel pintarnya (foto: AP).

CALIFORNIA, iNews.id - Sebuah SMA di California, Amerika Serikat (AS), memaksa siswa untuk meletakkan ponsel di tas khusus yang dikunci, dan hanya dapat dibuka dengan piranti khusus. Hal ini guna menghindari gangguan dan meningkatkan pembelajaran di sekolah.

Di SMA Silicon Valley ini, guru-guru mengunci telpon seluler siswa.

"Melihat telpon seluler dan mengirim pesan teks, mengecek media sosial. Saya akan menyita telpon itu berulangkali," kata guru Prancis, Joanne Sablich, di SMA San Mateo, seperti dilaporkan Associated Press, Rabu (15/1/2020).

Ketua OSIS SMA San Mateo Michael Picchi mengatakan, "Orang-orang hanya bermain Fortnite di telpon seluler mereka, di atas meja, ketika pelajaran di kelas sedang berlangsung."

Setiap siswa kini harus menyimpan telpon seluler mereka di tas kecil yang dilengkapi kunci magnetik.

"Kami melihat sebagian siswa menghabiskan waktu 11 hingga 12 jam sehari hanya untuk ponsel," tutur Wakil Kepala Sekolah SMA San Mateo, Adam Gelb.

"Pin ini masuk di sini, dan ini akan terkunci sepanjang hari. Ketika sekolah berakhir, para siswa dapat mengambil kembali telpon mereka dengan mengetuk kantung ini," kata Gelb.

Tas ini disebut 'Yondr Pouch'. Yondr digunakan saat konser dan tempat-tempat seni agar orang tidak menggunakan telpon, tetapi kini digunakan di banyak sekolah di AS dan Eropa.

"Para siswa sangat sibuk tahun ini. Alih-alih mereka hanya menggunakan ponsel untuk selfie atau melihat-lihat (isinya)" ujar Sablich.

Tetapi sebagian siswa tidak suka dengan penyitaan telepon seluler mereka.

"Orang meletakkan barang di jarum, mereka akan mematahkan jarum. Mereka bahkan membeli magnet di internet supaya dapat membuka kunci tas ini," kata Lana.

Sekolah memiliki konselor yang dapat mendukung mereka yang stress tanpa telpon seluler mereka.

"Lebih sulit untuk keluar dari masalah dan kecemasan, serta depresi, ketika kami tidak memiliki telepon," ujar siswa itu.

Kekhawatiran atas ketergantungan pada ponsel ini memotivasi CEO Yondr yang juga mantan pemain pro-sepakbola, Graham Dugoni, untuk menciptakan Yondr.

"Orang-orang umumnya melihat dunia lewat layar selama 8-10 jam per hari. Menjadi semakin jelas bahwa gagasan menciptakan ruang yang bebas piranti ini di setiap bentuk perkotaan modern merupakan sesuatu yang harus terjadi dan akan sangat membantu,’’ tukas Dugoni.

Biaya menyewa piranti ini sekitar 12 dolar AS per siswa, yang menurut Adam Gelb sejauh ini sangat bermanfaat.

"Sulit membayangkan ruang kelas yang masih memiliki telpon seluler saat ini," tutur Gelb.

Manfaat terbesar yang mereka harapkan segera terwujud adalah peningkatan nilai begitu rapor dibagikan dalam waktu dekat ini.

Editor : Nathania Riris Michico