Demonstrasi Hong Kong Memanas dan Brutal, KJRI Pastikan WNI Aman

Anton Suhartono, Antara ยท Selasa, 19 November 2019 - 19:26 WIB
Demonstrasi Hong Kong Memanas dan Brutal, KJRI Pastikan WNI Aman

Massa bertahan di Universitas Politeknik Hong Kong pada Senin (18/11) malam (Foto: AFP)

BEIJING, iNews.id - Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Hong Kong memastikan warga negara Indonesia (WNI) dalam kondisi aman di tengah memanasnya demonstrasi di kota tersebut. Bahkan demonstran semakin brutal dengan menggunakan senjata tajam dan membakar.

Konsul Jenderal RI untuk Hong Kong Ricky Suhendar mengatakan, demonstrasi hanya berpusat di titik-titik tertentu seperti kampus.

"Hong Kong memanas hanya di wilayah-wilayah tertentu. Di wilayah lain masih sangat aman dan kondusif, aktivitas juga masih berjalan normal. Kami pastikan WNI kita dalam keadaan aman," kata Ricky.

Soal kondisi mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Hong Kong, Ricky mengatakan kegiatan perkulihan sedang libur.

"Mengingat bahwa perkuliahan sudah dihentikan hingga akhir semester, maka mahasiswa Indonesia memutuskan pulang ke Tanah Air," ujarnya.

Beberapa mahasiswa yang masih berada di Hong Kong, lanjut dia, tidak tinggal di kampus dan pihaknya telah memastikan mereka aman.

Dua perguruan tinggi yang menjadi pusat demonstrasi yakni Universitas China Hong Kong dan Universitas Baptist melarang orang tidak berkepentingan memasuki kampus.

Kebijakan tersebut diambil setelah kampus Universitas Politeknik Hong Kong berubah menjadi medan ajang pertempuran jarak dekat antara massa dengan polisi, Minggu (17/11/2019).

Hingga Selasa (19/11/2019) atau hari ketiga, puluhan demonstran masih bertahan di kampus. Mereka mengabaikan peringatan polisi untuk menyerah.

Khawatir ditangkap atau ditembaki polisi, sejumlah kecil demonstran berkerumun di dalam Universitas Politeknik Hong Kong (PolyU) di malam hari.

Pengepungan di PolyU dimulai Minggu setelah ratusan demonstran menduduki kampus sebagai bagian dari kampanye besar yang dimulai pekan lalu.

Mahasiswa seolah menjadi aktor utama demonstrasi terbaru Hong Kong setelah tewasnya seorang demonstran yang jatuh dari gedung parkir. Alex Chow meninggal pada Jumat (8/11/2019) atau 5 hari setelah dirawat di RS. Tak hanya oitu, pada Senin (11/11/2019), polisi menembak dua mahasiswa dari jarak dekat menyebabkan salah satu mengalami luka parah.

Selama dikepung di PolyU, demonstran melawan polisi dengan melempar bom Molotov, menembakkan panah, dan melempar batu. Polisi mengancam akan menggunakan peluru tajam.

Beberapa pemrotes melarikan diri pada Senin malam dengan menyinari tali dari jembatan ke jalan, tempat mereka dibawa pergi dengan sepeda motor.

Sementara itu polisi tak kalah brutal. Selain menembak mahasiswa, mereka memukuli demonstran yang sudah terjatuh tak berdaya dengan tongkat. Seorang petugas juga memukuli kepala seorang pria tak berdaya. Semua kejadian itu terekam kamera video.

Kebrutalan polisi merupakan keluhan utama para demonstran sejak aksi ini pecah pada Juni lalu. Namun para perwira senior kepolisian bersikeras mereka bertindak proporsional.

Sementara itu pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengomentari aksi di PolyU. Dia mengatakan, menyerah merupakan satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian.

"Tujuan ini hanya dapat dicapai dengan kerja sama penuh dari para pengunjuk rasa, termasuk tentu saja para perusuh. Mereka harus menghentikan kekerasan, menyerahkan senjata, keluar dengan damai, serta mematuhi instruksi polisi," katanya.

Lam berjanji mahasiswa yang menyerah tidak akan ditangkap, namun pengunjuk rasa berusia di atas 18 tahun akan menghadapi tuduhan kerusuhan.

Pejabat kepolisian Hong Kong Inspektur Kwok Ka Chuen mengatakan, dalam 24 jam terakhir sekitar 1.000 orang ditangkap di seluruh Hong Kong. Ini berarti 20 persen dari total penangkapan sejak demonstrasi dimulai pada Juni.

Kwok mengatakan mereka yang ditangkap termasuk beberapa yang turun dari jembatan menggunakan tali serta pengendara sepeda motor yang membantu mereka.


Editor : Anton Suhartono