Erdogan dan Putin Kompak Sebut Keputusan AS soal Nuklir Iran Salah

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 11 Mei 2018 - 16:20:00 WIB
Erdogan dan Putin Kompak Sebut Keputusan AS soal Nuklir Iran Salah
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: Turki)

ANKARA, iNews.id - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut keputusan Amerika Serikat (AS) menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran 2015 (JCPOA) merupakan kesalahan. Melalui perbicangan lewat telepon, Kamis (10/5) malam, keduanya menyebut langkah Presiden Donald Trump itu menentang kekuatan dunia.

Erdogan dan Putin ingin menunjukkan pada Trump, perjanjian nuklir merupakan keberhasilan diplomatik yang sebenarnya harus dilindungi.

"Dua orang kuat menekankan bahwa menjaga JCPOA sangat penting bagi keamanan internasional dan regional, serta rezim non-proliferasi nuklir," demikian pernyataan yang dikeluarkan Kremlin, seperti dilaporkan AFP, Jumat (11/5/2018).

Kedua pemimpin menegaskan tekad mereka untuk bekerja sama melanjutkan kesepakatan 2015 dengan negara-negara yang ikut menandatangani.

Setelah negosiasi panjang pada Juli 2015, Iran setuju membatasi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi internasional. Kesepakatan itu dinegosiasikan antara Iran dengan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, yakni Inggris, China, Prancis, Rusia, Jerman, dan AS.

Sementara itu, Erdogan juga memberi selamat kepada Putin setelah dilantik pada awal masa jabatan keempatnya sebagai presiden Rusia.

Turki bekerja sama erat dengan Rusia dan Iran selama setahun terakhir terkait proses perdamaian Suriah, meski hubungannya dengan Iran terkadang bermasalah.

Menurut surat kabar Rusia, Kommersant, pada tahun terakhir masa jabatan ketiga Putin sebagai presiden, dia berbicara dengan Erdogan sebanyak 20 kali. Jumlah ini dua kali lipat lebih banyak dari pemimpin dunia lainnya.

Hubungan antara Turki dan AS masih tegang karena berbagai masalah, seperti dukungan Negeri Paman Sam untuk milisi Kurdi Suriah. Turki menganggap milisi tersebut teroris. Selain itu, hubungan kedua negara juga memburuk terkait penahanan seorang pastor AS di Turki.

Editor : Nathania Riris Michico