Hadapi Ancaman Iran, AS Dilaporkan Akan Kirim 14.000 Tentara Lagi ke Timur Tengah

Anton Suhartono ยท Kamis, 05 Desember 2019 - 07:15 WIB
Hadapi Ancaman Iran, AS Dilaporkan Akan Kirim 14.000 Tentara Lagi ke Timur Tengah

USS Abraham Lincoln berlayar di Selat Hormuz (Foto: AFP)

WASHINGTON, iNews.id - Amerika Serikat (AS) dilaporkan sedang mempertimbangkan pengiriman tambahan 14.000 pasukan ke Timur Tengah. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi ancaman Iran di kawasan.

Mengutip sumber di pemerintahan, Wall Street Journal (WSJ) melaporkan, AS juga akan mengirim peralatan tempur tambahan, termasuk puluhan kapal perang, ke Timur Tengah.

Diperkirakan jumlah pasukan AS yang akan dikirim mencapai dua kali lipat dibandingkan dengan personel yang sudah lebih dulu ada sejak awal 2019.

Presiden Donald Trump, kata WSJ, kemungkinan akan membuat keputusan mengenai penambahan personel dan peralatan tempur pada bulan ini.

Sementara itu juru bicara Departemen Pertahanan menolak mengomentari soal laporan penambahan pasukan AS tersebut saat dikonformasi AFP.

Diketahui, serangkaian insiden yang diduga dan dipastikan melibatkan Iran terjadi di Teluk dalam beberapa bulan terakhir. Dimulai dengan serangan terhadap kapal tanker Arab Saudi dan negara lain, serta penyitaan.

Lalu serangan terhadap dua fasilitas minyak Aramco, Saudi, yang diketahui menggunakan rudal dan drone buatan Iran. Pemberontak Houthi dari Yaman yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menyebabkan berkurangnya pasokan minyak dunia sebesar 5-6 persen itu.

Terkait serangakaian insiden ini, AS meningkatkan kehadiran militer di Teluk dan memperluas sanksi ekonomi kepada Iran, termasuk para pejabatnya.

Pada pertengahan November, kapal induk USS Abraham Lincoln berlayar melalui Selat Hormuz untuk unjuk kekuatan dengan tujuan meyakinkan para sekutunya di kawasan Teluk yang khawatir tentang ancaman Iran.

Pada Oktober, Menteri Pertahanan Mark Esper mengumumkan bahwa dua skuadron tempur dan rudal pertahanan tambahan dikirim ke Arab Saudi disertai dengan tambahan 3.000 tentara.

Sementara itu di Teheran, Rabu (4/12/2019), Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan siap kembali ke meja perundingan mengenai program nuklir jika AS mencabut sanksi terlebih dulu.

Perekonomian Iran terpukul setelah serangkaian sanksi baru dijatuhkan AS. Donald Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir tahun 2015 pada Mei 2018 yang juga diteken oleh lima negara lain.

Iran juga sedang menghadapi gejolak di dalam negeri setelah pemerintah menaikkan harga BBM. Demonstrasi yang diwarnai kekerasan, pembakaran, perusakan, dan penjarahan, pecah sejak 15 November 2019. Organisasi HAM Amnesty International menyebut jumlah korban tewas akibat unjuk rasa itu mencapai 208 orang, meski data itu dibantah Pemerintah Iran.


Editor : Anton Suhartono