Hamil karena Diperkosa, Bocah 11 Tahun Terpaksa Jalani Operasi Caesar

Anton Suhartono ยท Sabtu, 02 Maret 2019 - 06:13 WIB
Hamil karena Diperkosa, Bocah 11 Tahun Terpaksa Jalani Operasi Caesar

Bocah 11 tahun di Argentina korban pemerkosaan hamil dan terpaksa menjalani operasi Caesar (Ilustrasi, Foto: AFP)

BOGOTA, iNews.id - Anak perempuan berusia 11 tahun di Argentina hamil setelah menjadi korban pemerkosaan. Kondisi janin membuat anak itu harus melahirkan prematur melalui operasi Casar.

Orangtua sudah meminta agar putri mereka menjalani aborsi, namun tim medis memilih persalinan. Hal ini memicu protes dari para aktivis perempuan.

Media lokal melaporkan, korban hamil karena diperkosa oleh pria 65 tahun, kekasih neneknya.

Di usia kandungan 19 pekan, korban ke rumah sakit daerah di Provinsi Tacuman, Argentina, untuk meminta aborsi. Sebenarnya aturan di Argentina membolehkan aborsi untuk korban. Namun pemerintah daerah tak segera mengeluarkan izin.

Berdasarkan aturan, aborsi diperbolehkan terhadap korban pemerkosaan dan jika kondisi kandungan membahayakan sang ibu.

Pejabat pemerintah daerah membutuhkan waktu hingga 5 pekan untuk memutuskan apakah aborsi bisa dilanjutkan. Ditambah lagi, beberapa dokter menolak untuk aborsi dengan alasan kemanusiaan.

Akibat proses berbelit-belit tersebut, usia kandungan korban sudah 23 pekan. Dokter lalu menyatakan terlalu berisiko bagi korban untuk menjalani aborsi di usia kandungan yang sudah cukup besar.

Sebagai penggantinya, dokter melakukan operasi Caesar pada Selasa (26/2/2019). Anak itu melahirkan bayi prematur dengan bobot di bawah standar.

Kasus ini terjadi 6 bulan setelah Senat Argentina menolak RUU yang melegalkan aborsi. RUU membolehkan perempuan melakukan aborsi di usia kehamilan 14 pekan ke bawah.

Aktivis perempuan dari Human Right Watch, Margaret Wurth, mendesak pihak berwenang segera menyelidiki soal berbelit-belitnya proses serta tindakan terhadap korban.

"Ini adalah penyalahgunaan kekuasaan menjijikkan oleh otoritas kesehatan provinsi dan sangat membahayakan bagi kesehatan anak perempuan berusia 11 tahun, serta memaksanya untuk melanjutkan kehamilan yang tak diharapkan," kata Wurth, dikutip dari Reuters, Jumat (1/3/2019).

Mayoritas negara Katolik di Amerika Latin dan Karibia menerapkan hukum aborsi paling ketat di dunia. Beberapa negara Amerika Tengah melarang aborsi untuk alasan apa pun.

Editor : Anton Suhartono