India Izinkan Legislator Uni Eropa Kunjungi Kashmir, Warga Marah

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 30 Oktober 2019 - 09:56 WIB
India Izinkan Legislator Uni Eropa Kunjungi Kashmir, Warga Marah

Pasukan India berjaga di wilayah Kashmir. (FOTO: AFP)

NEW DELHI, iNews.id - Anggota Parlemen Uni Eropa tiba pada Selasa (29/10/2019) di wilayah Kashmir, India. Mereka menjadi delegasi asing pertama yang berkunjung ke sana sejak pemerintah India mencabut status otonomi atas wilayah itu pada Agustus dan memberlakukan tindakan keras terhadap para demonstran.

Para pejabat pemerintah India mengatakan, para anggota parlemen yang mewakili 11 negara berencana mengevaluasi situasi di Kashmir, setelah bertemu dengan Perdana Menteri India Narendra Modi.

India secara mengejutkan melucuti wilayah mayoritas Muslim itu dari hak konstitusionalnya untuk membentuk pemerintahan sendiri dan kepemilikan tanah. Langkah ini disertai pengerahan puluhan ribu tentara yang berkumpul di wilayah itu dengan pengawalan militer ketat.

BACA JUGA: India Cabut Status Otonomi untuk Kashmir, Pakistan Murka

Pasukan India memberlakukan jam malam yang meluas, menangkap ribuan orang, dan memutus hampir semua komunikasi.

Pejabat pemerintah sejak itu memulihkan sebagian layanan komunikasi, mendorong siswa untuk bersekolah lagi, dan mendesak pebisnis untuk membuka kembali usahanya.

BACA JUGA: India Cabut Status Khusus Kashmir dan Jammu: Hari Terkelam bagi Muslim

Warga Kashmir menolak tawaran dari pemerintah, dan menyuarakan kemarahan bahwa pemerintah India berupaya memperagakan kepada delegasi Uni Eropa bahwa wilayah itu sudah kembali normal.

Sebelumnya India akhirnya memulihkan beberapa jaringan layanan telepon seluler di Kashmir, dua bulan setelah pemberlakuan pembatasan komunikasi di wilayah Himalaya tersebut.

BACA JUGA: Soal Kashmir, PM Pakistan Peringatkan PBB Perang Nuklir Habis-habisan dengan India

Menurut Reuters, setelah menghapus status otonomi khusus wilayah mayoritas muslim itu, India kemudian memutus jalur internet dan telepon. India juga menangkap ribuan orang sebagai upaya meredam perbedaan pendapat.

Kendati demikian, jaringan telepon rumah dipulihkan bulan lalu, dan travel advisory juga telah dicabut. Namun mayoritas masyrakat di wilayah itu tetap tidak memiliki akses ke jaringan seluler atau koneksi internet sehingga memicu amarah.

BACA JUGA: Konflik Kashmir: Puluhan Ribu Warga Pakistan Gelar Demonstrasi Anti-India

India dan Pakistan berperang dua kali atas wilayah Kashmir. India menyatakan bahwa beberapa pembatasan di wilayah itu masih diperlukan untuk memerangi pemberontakan yang telah berlangsung beberapa dasawarsa melawan kekuasaannya.

Tuduhan itu dilayangkan ke Pakistan, namun dibantah. Pakistan menyatakan hanya memberi dukungan diplomatik dan moral kepada separatis Kashmir.

BACA JUGA: 144 Anak di Bawah Umur Ditahan di Kashmir, Termasuk Bocah Usia 9 Tahun


Editor : Nathania Riris Michico