Jurnalis Indonesia Veby Mega Indah yang Tertembak saat Demo Hong Kong Alami Kebutaan

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 02 Oktober 2019 - 23:23 WIB
Jurnalis Indonesia Veby Mega Indah yang Tertembak saat Demo Hong Kong Alami Kebutaan

Veby Mega Indah terluka di mata saat meliput demonstasi Hong Kong pada Minggu (29/9/2019). (Foto/AFP)

HONG KONG, iNews.id - Veby Mega Indah, jurnalis asal Indonesia yang terkena tembakan peluru karet saat meliput demonstrasi Hong Kong, dilaporkan mengalami kebutaan.

Michael Vidler, pengacara Veby, menyebut dokter yang memeriksa mengatakan mata kanan kliennya mengalami kerusakan sangat parah, sehingga akan membuatnya buta permanen.

"Dokter yang merawat Veby memberitahu bahwa sayangnya cedera yang diterimanya akibat ditembak oleh polisi, akan mengakibatkan kebutaan permanen di mata kanannya," kata Vidler.

"Dia diberi tahu bahwa pupil matanya pecah oleh kekuatan benturan. Persentase pasti dari kerusakan permanen hanya dapat dinilai setelah operasi," ujar dia, seperti dilaporkan hongkongfp, Rabu (2/10/2019).

Seperti diketahui, jurnalis surat kabar SUARA itu terkena tembakan di dekat mata bagian kanan akibat proyektil yang tidak mematikan. Sata kejadian, polisi sedang membubarkan pengunjuk rasa dari daerah Wan Chai pada Minggu sore.

Petugas polisi juga dilaporkan menggunakan semprotan merica pada wartawan lokal di Causeway Bay.

Veby mengatakan, dia tertembak di jembatan yang menghubungkan Menara Imigrasi dan stasiun MTR Wan Chai. Sebelum terluka, menurut ceritanya, petugas polisi mundur dari jembatan ketika salah satu dari mereka menembak ke arah sekelompok pengunjuk rasa dan jurnalis.

Asosiasi Jurnalis Hong Kong mendesak pihak berwenang menjelaskan mengapa wartawan, termasuk Veby, menjadi sasaran polisi antihuru-hara. Chris Yeung Kin-hing, ketua asosiasi, mengatakan bahwa kepolisian perlu menjelaskan mengapa peluru ditembakkan ke arah wartawan.

Yeung mengatakan, dia tidak bisa mengerti mengapa wartawan berulang kali terluka oleh polisi antihuru-hara.

"Polisi perlu menjelaskan mengapa, alih-alih melakukan perbaikan, keadaan malah memburuk," katanya.

Editor : Nathania Riris Michico