Khamenei Tegaskan Tak Ingin Bertemu dan Berunding dengan Trump

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 14 Juni 2019 - 10:42 WIB
Khamenei Tegaskan Tak Ingin Bertemu dan Berunding dengan Trump

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. (FOTO: IRANIAN SUPREME LEADER'S WEBSITE / AFP)

TEHERAN, iNews.id - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dengan tegas menolak rencana pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Hal itu dia tegaskan meski Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berkunjung ke Teheran dalam upaya meredakan ketegangan antara AS dan Republik Islam itu.

"Iran tidak percaya pada Amerika dan tidak akan dengan cara apa pun mengulangi pengalaman pahit dari negosiasi sebelumnya dengan Amerika," kata Khamenei, seperti dilaporkan AFP, Jumat (14/6/2019).

Pernyataan itu muncul setelah Khamenei bertemu dengan Abe melakukan yang melakukan kunjungan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Revolusi Islam 1979.

BACA JUGA: Khamenei ke PM Abe: Trump Tak Layak Bertukar Pesan dengan Saya

Kunjungan itu bertepatan dengan dugaan serangan terhadap dua kapal tanker minyak di Laut Oman, di lepas pantai Iran, yang salah satunya merupakan milik perusahaan Jepang. Hal ini pun kembali memicu ketegangan di Teluk melonjak.

Iran dan AS mengalami perselisihan sejak Mei tahun lalu, ketika Trump menarik AS keluar dari perjanjian nuklir 2015 yang dinegosiasikan oleh pemerintahan Barack Obama.

AS sejak itu menerapkan kembali sanksi unilateral atas Iran dan meluncurkan sekompi militer di Teluk yang mengirim ketegangan melonjak.

"Presiden Trump mengatakan dia tidak ingin melihat ketegangan meningkat," kata Abe, setelah pertemuan.

"Saya saling berbagi dengan jujur ??dengan Ayatollah Khamenei tentang pandangan saya sendiri, tentang apa niat yang ada dalam pikiran presiden," sambung Abe.

Dalam konferensi pers dengan Abe pada Rabu, (12/6/2019), Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan dia mengharapkan perubahan sangat positif di Timur Tengah dan dunia jika AS menghentikan apa yang disebutnya "perang ekonomi" terhadap Iran melalui sanksi.


Editor : Nathania Riris Michico