Kisah 4 Anak Harimau Sumatera yang Lahir di Kebun Binatang Jerman

Nathania Riris Michico ยท Selasa, 04 Desember 2018 - 07:27 WIB
Kisah 4 Anak Harimau Sumatera yang Lahir di Kebun Binatang Jerman

Harimau Sumatera di Berin. (Foto: doc. KBRI Berlin)

BERLIN, iNews.id - Di kebun binatang Tierpark Berlin, Jerman, empat anak harimau Sumatera lahir pada 4 Agustus lalu. Bayi-bayi harimau tersebut adalah keturunan pertama dari pasangan harimau Sumatera, Harfan (jantan) dan Mayang (betina).

Harfan (saat ini berusia 10 tahun) dan Mayang (saat ini berusia 7 tahun) dititipkan Pemerintah Indonesia kepada Kebun Binatang Tierpark pada Desember 2013. Dengan statusnya sebagai pinjaman dari Pemerintah Indonesia, anak-anak yang lahir dari Harfan dan Mayang tetap berstatus sebagai milik Pemerintah Indonesia.

Pada Kamis (22/11), Tierpark Berlin menggelar acara khusus untuk memperkenalkan empat bayi harimau tersebut kepada pengunjung kebun binatang ini. Acara ini antara lain dihadiri oleh Direktur Kebun Binatang dan Tierpark Berlin, Andreas Knieriem; anggota Badan Eksekutif Sparkasse, Hans Jurgen Kularts; dan Duta Besar RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno.

Dubes Havas dalam sambutannya menyampaikan apresiasi khusus kepada pihak Tierpark dan sponsor yang berhasil melestarikan salah satu kekayaan Indonesia yang saat ini terancam punah.

Dengan lingkungan dan iklim yang sangat berbeda, Tierpark berhasil menciptakan kondisi sehingga pasangan harimau Harfan dan Mayang dapat hidup dengan baik dan berhasil memiliki 4 anak yang sehat.

"Pelestarian harimau Sumatera di Tierpark Berlin adalah simbol kedekatan hubungan antara Indonesia dan Jerman. Upaya yang dilakukan Tierpark Berlin adalah kontribusi nyata dalam mendukung misi Pemerintah Indonesia untuk melestarikan Harimau Sumatera. Kita menargetkan pada 2022 nanti dapat menggandakan populasi Harimau Sumatera” ujar Dubes Havas.

Sementara itu, Knieriem menyebut bahwa lahirnya keempat anak harimau tersebut memilik arti tersendiri bagi Tierpark Berlin. Tak hanya membantu pelestariannya, akan tetapi keunikan yang dimiliki oleh harimau Sumatera ini akan mengundang orang untuk lebih mengenal Indonesia, sebagai negara yang begitu luas dan memiliki kekayaan yang beragam.

"Hari ini merupakan hari pertama bagi keempat bayi harimau Sumatera untuk tampil di depan ke publik. Ini sekaligus awal bagi mereka untuk mengenali habitat barunya yang dikelilingi bebatuan. Dan hari ini kita juga akan mengumumkan secara resmi nama untuk keempat bayi harimau tersebut," kata Knieriem, dalam sambutan pembukaannya.

Usulan nama untuk keempat bayi harimau yang berjenis kelamin 2 jantan dan 2 betina diterima oleh pihak Tierpark Berlin dari berbagai pihak. Tierpark kemudian menunjuk 4 orang untuk memilih masing-masing satu nama dari usulan yang diterima.

Dubes Havas diberi kesempatan pertama untuk memilih nama bagi anak betina pertama, yaitu Kiara. Berikutnya, Knieriem memilih nama Willi bagi anak jantan pertama.

Dari Sparkasse yang merupakan sponsor pelestarian harimau Sumatera di Tierpark, memilih nama Oscar untuk anak jantan kedua. Dan terakhir, perawat harimau Sumatera Tierpark Berlin memilih nama untuk anak betina kedua, yaitu Seri.

Biasanya anak harimau baru bisa dipisahkan dari induknya saat mereka berusia sekitar dua tahun. Namun rencananya, tahun depan mereka akan dipindahkan ke habitat baru mereka yaitu Tierparks New Rainforest House yang bertempat di Gedung Alfred Brehm.

"Habitat baru ini kami desain sedemikian rupa mirip dengan kondisi hutan hujan yang selalu hijau (evergreen rainforest). Dengan demikian, harapan kami para anak harimau dapat tumbuh dan berkembang lebih baik seolah-olah mereka berada di habitat aslinya. Selain itu, evergreen rainforest ini juga memberikan perspektif baru dan fakta yang menakjubkan bagi para pengunjung tentang satwa-satwa yang tinggal di hutan tersebut."

Sebelumnya, populasi harimau Sumatera diperkirakan mencapai 400 ekor. Pada 2018, jumlah tersebut meningkat dan diperkirakan mencapai 600 ekor.

Indikasi peningkatan tersebut antara lain dilihat dari peningkatan nilai densitas populasi harimau Sumatera yang pada 2002 berada di angka 1,6/100km2 menjadi 2,8/100km2 pada 2015.

Pemerintah Indonesia saat ini juga mencanangkan program untuk dapat menghitung secara persis jumlah populasi harimau Sumatera di hutan-hutan yang ditetapkan sebagai fokus pelestarian satwa ini.

Tidak sekedar jumlahnya saja, tapi data-data yang dikumpulkan juga dapat mengidentifikasi jumlah populasi berdasarkan jenis kelaminnya, sehingga langkah-langkah pelestariannya juga dapat lebih terarah.

"Kerja sama untuk pelestarian satwa langka Indonesia ini akan terus kita tingkatkan dan kembangkan. Tidak hanya dengan Tierpark Berlin tetapi juga dengan seluruh kebun binatang yang ada di Jerman. Tidak hanya harimau Sumatera, pelestarian satwa langka lainnya juga akan dikerjasamakan dengan Jerman" ungkap Dubes Havas.


Editor : Nathania Riris Michico