Kisah Bocah Berjuang Tambah Berat Badan agar Bisa Donorkan Sumsum Tulang ke Ayah

Anton Suhartono ยท Rabu, 12 Juni 2019 - 06:03 WIB
Kisah Bocah Berjuang Tambah Berat Badan agar Bisa Donorkan Sumsum Tulang ke Ayah

Lu Zikuan (kiri) dan ayahnya (Foto: The Star)

BEIJING, iNews.id - Seorang bocah 11 tahun di China melakukan segala upaya untuk menyelamatkan nyawa ayahnya yang menderita sakit kanker darah atau leukimia.

Bocah bernama Lu Zikuan itu ingin mendonorkan sumsum tulang belakang ke sang ayah, Lu Yanheng, namun ditolak dokter karena berat tubuhnya belum memenuhi syarat. Untuk itu, Zikuan harus banyak makan demi membuat tubuhnya gemuk.

Siswa kelas 4 yang tinggal di Kota Xinxiang, Provinsi Henan, itu harus makan setidaknya lima kali sehari untuk menaikkan berat badan. Dia harus mengonsumsi daging berlemak serta asupan mengandung karbohidrat seperti nasi.

Sejak memulai program ini 3 bulan lalu, berat badan Zikuan naik lebih dari 10 kilogram, menjadi 43 kg. Namun itu masih belum cukup, beratnya masih harus naik beberapa kg lagi.

"Saya akan mencapai 50 kg segera dan dapat menyelamatkan ayah saya," katanya, dikutip dari The Star, Selasa (11/6/2019).

Yanheng didiagnosis menderita leukemia 7 tahun lalu. Kini dia menjalani perawatan dengan harus meminum berbagai obat. Pada Agustus 2018, kesehatannya memburuk dan dia membutuhkan transfusi darah.

Menurut dokter, seperti dikutip dari surat kabar Dahe Daily, transplantasi sumsum tulang belakang merupakan cara terakhir untuk menyelamatkan Yanheng.

Setelah memeriksa semua anggota keluarga pasien, dokter menemukan bahwa hanya sumsum tulang belakang Zikuan yang cocok dengan ayahnya.

Informasi dari dokter itu seperti setitik cahaya di tengah kegelapan malam yang menyelimuti keluarga Yanheng selama bertahun-tahun. Namun ikhtiar masih harus dilakukan yakni menaikkan berat badan anak itu dari 30 sampai 50 kg secepat mungkin.

"Dokter mengatakan untuk bisa mendonorkan sumsum tulang belakang, saya harus mencapai setidaknya 45 kg. Berat ideal adalah 50 kg," ujar Zikuan.

Program menaikkan berat badan dalam waktu singkat ini menambah beban keuangan bagi keluarga pasien.

Dengan pendapatan 2.000 yuan atau sekitar Rp4,1 juta per bulan (kurs 1 yuan = Rp2.067) dari bekerja sambilan di toko kelontong, ibu Zikuan, Li Jinge, tidak mampu memberi makan yang banyak dan bergizi kepada anaknya.

Apalagi, selain Yanheng dan Zikuan, Li juga harus merawat anak kembar berusia 8 tahun serta mertuanya yang juga menderita tekanan darah tinggi dan masalah jantung.

"Kami menghabiskan lebih dari 500.000 yuan untuk tagihan medis suami dan sebagian besar uang itu dipinjam dari kerabat dan teman," katanya, seraya menambahkan bahwa pengeluaran rumah sakit per bulan untuk Yanheng sekitar 3.000 yuan.

Sementara itu, Zikuan bangga bisa menyelamatkan ayahnya. Dia tak peduli dengan ejek teman-teman sekolah yang menyebutnya gendut.

"Selamatkan ayah dulu, turunkan berat badan nanti," katanya.

Sekolah juga telah memulai penggalangan dana untuk membantu keluarganya.

Kisah Zikuan ini juga menjadi viral di media sosial. Banyak warganet mengirim pesan dan menyebut Zikuan sebagai pahlawan dan malaikat. Mereka juga mendoakan agar Yanheng segera pulih.

"Kamu sudah memikul tanggung jawab besar di usia begitu muda, luar biasa," tulis Kongwei Wizard.

"Kamu tidak gendut, kamu adalah pahlawan!" ucap warganet lainnya.


Editor : Anton Suhartono