Kisah Kakek yang Bantu Bagikan Makanan Gratis di Australia Selama 44 Tahun

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 25 Oktober 2019 - 07:04 WIB
Kisah Kakek yang Bantu Bagikan Makanan Gratis di Australia Selama 44 Tahun

Frank Mullins yang kini berusia 81 tahun, sudah menjalani kerja sosial selama 44 tahun memberi makan bagi warga kurang beruntung di Kota Melbourne. (FOTO: Reannon Smith/doc. ABC News)

MELBOURNE, iNews.id - Inilah kisah Frank Mullins, seorang pekerja sosial di Melbourne, Australia, yang kini sudah berusia 81 tahun. Selama lebih 40 tahun, setiap Kamis, dia sisihkan waktunya membagi makanan gratis bagi siapa saja yang membutuhkan.

"Sekarang jam 7 malam! Kita seharusnya sudah jalan," katanya, ketika ditemui ABC News.

Franks sangat disiplin soal waktu. Baginya, para warga yang membutuhkan makanan tidak seharusnya menunggu lama dalam udara yang dingin.

Selama 44 tahun, dia bekerja sebagai relawan untuk badan amal Saint Vincent de Paul Society (Vinnies), menyiapkan dan membagikan makanan dan sup kepada warga yang sedang mengalami kesulitan.

Di antara warga yang datang ke lokasi mobil keliling badan amal ini, ada yang berjas rapi, ibu dan anak-anaknya, pasangan muda yang hidup menggelandang, dan bahkan sahabatnya sendiri.

Setiap Kamis, tanpa pernah absen, Frank berangkat dari rumahnya di daerah Anglesea ke lokasi mobil makanan Vinnies di Melbourne Utara yang jaraknya lebih dari 100 km dari rumahnya.

Perjalanan ini menempuh waktu dua setengah jam, yang dia gunakan untuk tidur atau membaca buku.

Aktivitas mobil Vinnies sendiri dimulai oleh dua orang mahasiswa di Melbourne, Anne O'Brien dan Chris Knight, pada 26 Juni 1975, atau 44 tahun silam.

Tadinya mereka hanya menyajikan sup dan sandwich buatan sendiri untuk kaum pria penderita alkoholisme di salah satu kawasan kota itu.

Frank bergabung dengan kegiatan itu dan menjadi voluntir atau "Vannie" dua bulan kemudian.

Kini para voluntir sudah melayani warga di delapan lokasi negara bagian Victoria, termasuk mendatangi perumahan sosial untuk warga miskin.

Mereka membawa sup, sandwich, serta kue-kue panas langsung ke rumah warga.

Namun bagi Frank, setelah lebih dari empat dekade mengabdi sebagai Vannie, kini dia memutuskan untuk berhenti.

"Saya sudah terlalu tua. Sudah terlalu sulit bagi saya. Saya ingin berhenti di saat masih mampu memberikan sesuatu," ujarnya, kepada jurnalis ABC News, Rachel Clayton.

Frank tidak ingin usianya menjadikannya sebagai beban bagi lembaga tersebut.

"Saya ikhlas menerima keadaan ini," ujarnya.

Salah seorang warga bernama Patrick yang rutin menerima bantuan selama tiga tahun terakhir, sudah menjadi sahabat Frank.

"Tak ada kejelekan yang bisa dikatakan mengenai Frank. Dia pria yang ramah, tidak menyakiti siapa pun," katanya.

Kesepian jadi masalah terbesar

Tidak semua warga yang datang semata-mata untuk mendapatkan makanan gratis. Ada pula yang datang hanya karena ingin mendapatkan teman mengobrol.

"Ada pecandu narkoba dan mereka yang ketergantungan alkohol. Tapi masalah terbesar justru orang-orang yang kesepian," kata Frank.

Frank Mullins bersama satu warga yang dilayaninya selama tiga tahun terakhir. (ABC News: Rachel Clayton)

Dari pengalamannya yang panjang, dia seringkali mendapati warga yang begitu senang hanya karena ditemani mengobrol selama beberapa saat. Frank mengatakan masalah kesepian dihadapi kian banyak orang saat ini.

Dia mendapati hal ini bahkan di lingkungan tempat tinggalnya sendiri.

"Saat baru pindah, tetangga saya begitu senang karena kini ada teman mengobrol," ujarnya.

Mesk Frank sendiri punya banyak teman, namun bukan berarti dia tidak pernah mengalami masa-masa sulit.

"Dulu kami pernah mendatangi sebuah rumah yang dihuni empat hingga enam anak. Mereka begitu kasar dan saya hanya bisa berpikir bagaimana orangtua mereka mengatasinya?" katanya.

Dia tak paham mengapa anak-anak muda ini berakhir di rumah sosial yang disiapkan pemerintah.

Malam itu, Frank pulang ke rumahnya sendiri mendapati tiga putranya dan merasa sangat bersyukur karena mereka tidak hidup di jalanan.

Sejak tahun lalu, Frank tidak bisa lagi membagi-bagikan makanan karena lengannya cedera.

Sejak itu, dia lebih banyak menjalani kerja sosialnya dengan cara memastikan warga penerima mendapatkan makanan dan minuman yang cukup.

Sekitar 30 tahun lalu, Frank giat mempromosikan kegiatan badan amal itu di berbagai wilayah sekitar Melbourne.

Seorang warga yang kehilangan anak-anak dan istrinya mendekati Frank dan menyampaikan keinginannya menjalankan mobil Vinnie di daerah bernama Footscray, yang banyak dihuni para imigran.

Saat badan amal ini akan merekrut volunter untuk diterjunkan ke Footscray, puluhan orang tampak mengantri di depan Gereja Santa Monica.

Awalnya relawan ini hanya membagikan sandwich buatan sendiri yang terdiri atas keju dan selain khas Australia, vegemite, dengan tuna dan salada.

"Saat itu saya menemukan teman sekolah yang menjadi pecandu alkohol," tutur Frank.

Pada tahun lalu, sebanyak 256 orang Vannie di Footscray membagikan 62.121 makanan serta ribuan selimut, kantong tidur, perlengkapan pribadi dan perlengkapan mandi kepada mereka yang membutuhkan.

Frank mengatakan jumlah volunter di sana mulai berkurang, padahal warga yang membutuhkan semakin meningkat.

Pekan ini, badan amal Vinnies merayakan 30 tahun kerja sosial mereka di daerah Footscray tersebut -dan secara khusus memberikan penghargaan kepada Frank Mullins.

CEP Vinnies negara bagian Victoria, Sue Cattermole, menyebutkan idealnya tak perlu ada mobil makanan yang berkeliling membagi-bagikan makanan gratis. Tapi kenyataannya, kebutuhan seperti itu justru semakin besar.

"Volunter seperti Frank Mullins merupakan batu fondasi dari pengabdian Saint Vincent de Paul Society," ujarnya.

Frank sendiri masih akan bekerja empat kali lagi sebelum berhenti karena faktor usia. Dia mengaku sudah cukup dengan pengabdiannya yang sudah berlangsung begitu lama.

"Saya sudah siap untuk berhenti. Rencananya beristirahat -yang saya rasa menyakitkan," ujarnya.


Editor : Nathania Riris Michico