Kisah Keluarga Palestina yang Hidupnya Bergantung pada Tembok Pemisah Israel

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 12 Juli 2019 - 14:58 WIB
Kisah Keluarga Palestina yang Hidupnya Bergantung pada Tembok Pemisah Israel

Omar Hajajla, warga Palestina berjalan dengan putranya melalui terowongan yang menghubungkan rumah mereka di Yerusalem ke al-Walajah, desa mereka di Tepi Barat, 30 Mei 2019. (Foto: AFP)

RAMALLAH, iNews.id - Di salah satu sisi tembok pemisah Israel terletak rumah keluarga Hajajla. Rumah keluarga Palestina itu terpisah dari batas desa mereka yang terletak di sisi lain, dengan hanya sebuah terowongan yang menghubungkan keduanya.

Masalah tak kunjung usai, kata mereka. Situasi mereka menjadi berita lagi ketika otoritas Israel mengunci gerbang yang mengarah ke terowongan yang menghubungkan rumah mereka ke desa Al-Walajah di Tepi Barat yang diduduki.

Menurut keluarganya, selama lebih dari sepekan, Mohammed Hajajla yang berusia 10 tahun harus berjalan enam kilometer di bawah terik matahari, untuk menempuh perjalanan ke sekolah karena penutupan itu.

Pihak berwenang Israel menyatakan, penutupan dilakukan karena keluarga itu diduga mengizinkan penyeberangan ilegal dari Tepi Barat ke Yerusalem melalui terowongan buatan Israel itu.

Keluarga itu menyangkal dan mengatakan itu adalah contoh pelecehan dari otoritas Israel yang mereka alami selama bertahun-tahun.

"Saya tidak akan tunduk. Saya tidak akan patah semangat," kata bapak dari keluarga itu, Omar Hajajla, seperti dikutip AFP, Jumat (12/7/2019).

Rumah bata itu terletak di sebuah bukit, di seberang lembah dari pemukiman Israel Gilo di pinggiran Yerusalem.

Masalah yang mereka hadapi berawal pada 2010, ketika pembangunan tembok pemisahan Israel yang memotong Tepi Barat itu mencapai daerah mereka.

Israel mulai membangun penghalang pada 2002, selama intifada kedua Palestina yang berdarah.

Bagi Israel, penghalang itu dibangun untuk alasan keamanan. Orang-orang Palestina melihatnya sebagai "tembok apartheid", simbol kuat pendudukan Israel.

Pihak berwenang Israel memberi keluarga itu pilihan: pergi atau melihat rumah mereka dipotong oleh pagar. Tanah desa lainnya juga diisolasi oleh konstruksi penghalang.

Omar Hajajla mengatakan Israel menawarkan sejumlah besar uang kepadanya untuk pindah, namun dia menolak dan membawa kasus itu ke pengadilan.

Pada 2016, sebuah kesepakatan dicapai dengan pihak berwenang Israel tentang syarat-syarat ketat untuk penggunaan terowongan oleh keluarganya, yang gerbangnya dapat dibuka dengan remote.

Hajajla mengatakan dia kemudian memasang bel pintu listrik di sisi lain terowongan untuk memudahkan anggota keluarga untuk datang dan pergi, terutama karena anak-anaknya tidak memiliki ponsel.

Namun seorang petugas kepolisian Israel melihatnya pada Mei.

"Mereka berkata kepada saya, 'Lonceng ini berada di zona keamanan (militer Israel)'," kata pria 53 tahun itu.

Hajajla mengatakan dia dibawa untuk diinterogasi selama empat jam dan pintu gerbang itu dikunci.

Selama delapan hari, keluarga itu hanya bisa keluar melalui pintu rahasia di sisi samping.

Gerbang yang dikunci itu merupakan rute Mohammed dan kakaknya pergi ke sekolah, sehingga mereka harus berjalan enam kilometer.

"Kami pergi pagi-pagi sekali dan pulang terlambat," kata Mohammed.

Keluarga itu mengancam akan membawa kasus itu ke pengadilan lagi dan kunci itu akhirnya dibuka.

Namun kemudian Omar kehilangan izin yang diberikan Israel untuk melintasi pos pemeriksaan ke Israel dan Yerusalem, tempat dia bekerja.

"Setiap kali mereka menemukan alasan baru untuk memaksa kita meninggalkan rumah," katanya.

Dalam sebuah pernyataan kepada surat kabar Israel, Haaretz, polisi mengatakan, "Omar Hajajla dicurigai mengambil keuntungan dari gerbang untuk membawa orang Palestina secara tidak patut untuk melewatinya dan karena itu diminta untuk diinterogasi."

"Semua investigasi yang melibatkan kecurigaan atas kejahatan terkait keamanan Palestina menyebabkan pencabutan izin masuk ke wilayah Israel sampai kecurigaan dapat diklarifikasi dan atau dakwaan diajukan."

Palestina menyatakan situasi keluarga Hajajla adalah contoh lain dari masalah yang ditimbulkan oleh penghalang pemisah Israel.

Penghalang yang merupakan kombinasi dinding hingga setinggi sembilan meter, pagar elektronik, dan kawat berduri, kini lebih dari dua pertiga telah selesai.

Ketika lengkap, sekitar 85 persennya akan dibangun di dalam Tepi Barat, wilayah yang diduduki oleh Israel dalam Perang Enam Hari 1967.

PBB memotong hampir 10 persen wilayah Palestina.

Sementara itu, ekspansi pemukiman Israel terus berlanjut di Tepi Barat, konstruksi yang oleh komunitas internasional dianggap ilegal.

Lebih dari 400.000 orang Israel tinggal di permukiman Tepi Barat dan 200.000 lainnya di Yerusalem timur yang dicaplok.


Editor : Nathania Riris Michico